Penulis: Sarah Singleton
Alih bahasa: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 halaman
Cetakan: I, Juli 2007

Kebanyakan kisah misteri bernapaskan horor dan berbau thriller di
film-film Hollywood mengambil lokasi sebuah rumah, khususnya bangunan
kuno. Akan tetapi gambar sampul novel ini terasa lain dan sangat
menarik perhatian saya. Sinopsis di sampul belakangnya memantapkan
keputusan untuk membawanya ke kasir.

Century adalah nama sebuah rumah tempat Mercy Verga dan adiknya,
Charity, menjalani hidup yang tidak normal. Mereka tak pernah melihat
siang hari. Bangun dan beraktivitas saat matahari sudah terbenam
bersama sang ayah, Trajan, serta kedua pengasuh sekaligus pengurus
rumah mereka, Galatea dan Aurelia. Bunga snowdrop yang ditinggalkan
seorang pemuda bernama Claudius-lah yang menumbuhkan rasa ingin tahu
Mercy mengenai penyebab ketidaklaziman keseharian keluarganya.
Claudius, yang ternyata anggota keluarga Verga, menguak sebuah
rahasia: mereka tak pernah menjadi tua walaupun berumur ratusan tahun.

Halaman-halaman awal novel bernuansa muram, yang mengingatkan saya
pada film The Others, ini membuat bulu roma berdiri. Deskripsi hantu
Marietta yang muncul di bawah es demikian terperinci dan hidup sehingga saya harus
menarik diri sedikit lebih jauh dari penghayatan cerita agar tidak
terbayang-bayang terus. Kelanjutan kisah Century
membuktikan bahwa kemampuan Mercy melihat hantu tak sekadar dilekatkan
untuk meniupkan aroma horor, melainkan salah satu kunci penting dalam
alurnya.

Gagasan Singleton seputar persihiran yang ditawarkan di sini
benar-benar orisinal. Hidup manusia bagaikan sebuah buku, yang dapat
ditulis ulang dan dipenggal bagian-bagian tertentu agar kenangan
terekam abadi. Tidak ada kejadian yang tak perlu diingat. Semua
dikunci dalam bab sebuah buku merah yang telah dimantrai. Ulang-alik
waktu jauh dari membingungkan, justru menambah bobot cerita Century.
Bagian favorit saya adalah tatkala Mercy dikurung, sementara Trajan
dan Galatea mengatakan dirinya kehilangan akal lantaran kematian
ibunya. Dengan ahli, Singleton ‘mempermainkan’ pembaca untuk
mempertanyakan siapa yang lebih patut dipercaya: Trajan atau Claudius?

Pelajaran paling signifikan ialah manusia tak boleh menentang kehendak
Tuhan, karena hal tersebut merupakan lambang arogansi yang akan
berakhir pada kehancuran belaka. Untuk sebuah novel yang relatif tipis
dengan harga terjangkau (di bawah 30 ribu, tepatnya saya lupa),
Century benar-benar mempesona.

Skor: 4/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)