Satu hal yang saya pelajari dari buku ini: pertanyaan tak pernah ada habisnya, apalagi kalau “niat” mencari-cari. Selain itu, yang namanya jawaban bisa beragam dan variatif sekali.

Kalau diingat-ingat, saya termasuk mujur karena tidak perlu sering riset online semasa menerjemahkan buku ini. Kamus-kamus cetak yang ada sudah mencukupi. Kalimat-kalimat yang kelewat rumit atau panjang disederhanakan sedapat mungkin dengan bantuan Mas Agus, yang kala itu tengah longgar. Atau saya edit sendiri dengan membacanya dulu keras-keras.

Yang membuat saya tersenyum, misalnya ini:

Mengapa anak-anak tidak menangani urusan sendiri?
Mungkin anak-anak tidak menangani urusan sendiri karena, diam-diam, mereka berharap orang lain yang melakukannya.

Ada lagi tentang manfaat menangis:

[sws_blue_box box_size=”100″] 50. Maka, tak perlu menahan diri, menangis itu sehat. Air mata adalah salah satu cara terbaik untuk membersihkan tubuh dan jiwa dari luka sehingga kita terus “berjalan” dengan pandangan yang jelas! [/sws_blue_box]

 

Saya belajar ihwal hubungan anak dan orangtua dalam bahasan keharusan anak untuk patuh, jawabannya begini:

[sws_green_box box_size=”100″] 84. Inilah semacam “Hukum Kasih Sayang”. Anak menurut bukan karena orang dewasa adalah yang paling kuat, tetapi karena mereka menyayanginya. Peran orangtua terutama membimbing anak mereka untuk dapat hidup mandiri seraya beradaptasi dengan masyarakat sekitarnya. [/sws_green_box]

 

Pertanyaan-pertanyaan mendalam lainnya menyangkut kegagalan menjadi juara dunia, mengapa umur hewan lebih pendek daripada manusia, benarkah roh keluar dari tubuh sewaktu kita tidur, mabuk darat waktu naik kendaraan (ini saya banget, hahaha), sampai mitos yang menyebabkan takut melewati bawah tangga.

Bahasan favorit saya adalah kematian, yang memang tidak salah “diperkenalkan” pada anak-anak. Berikut nukilannya:

[sws_yellow_box box_size=”100″] 255. Kita tidak bisa mencegah kematian orang yang kita cintai. Semakin dalam cinta kalian pada mereka, semakin menyakitkan rasa kehilangan dan semakin panjang kesedihan. Merekalah yang berhenti hidup, bukan kalian. [/sws_yellow_box]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Cerita Penerjemahan “Buku Tentang Mengapa” (Le Livre des Pourquoi) ”

  1. gravatar SP Reply
    November 18th, 2013

    Yang tentang air mata dan kematian ada di La Terre atau Le Cochon, ya? *penasaran*

    • gravatar Rini Nurul Reply
      November 18th, 2013

      Hihihi, bukan dua-duanya Mei. Ini terbitan tetangga. Ada temannya😀

Leave a Reply

  • (not be published)