Dear Life_small size

Menerjemahkan buku ngetop itu grogi, walaupun tidak semendebarkan sidang akhir skripsi.

Kepopuleran ini berlaku umum untuk buku fantasi, buku nonfiksi, dan genre lain yang punya kalangan pembaca masing-masing. Saya tidak akan memperpanjang dan memperpanas perdebatan tentang pelekatan status genre sastra, juga pengotak-ngotakannya. Lagi pula ketika memberi saya tugas, para editor tidak pernah bilang, “Ini harus lebih bagus lagi ya, karena bukunya sastra.” Atau semacam itu. Semua diperlakukan sama.

Langkah pertama ketika diserahi Dear Life, saya menyesuaikan selingkung. Editor berbaik hati memberikan panduan selingkung yang diperbarui untuk saya pelajari dan cocokkan sewaktu membaca ulang.

Jujur saja, karena Dear Life ini kumpulan cerpen, saya berani menggarapnya. Apabila berbentuk novel, agaknya saya pikir-pikir dulu. Begini pun sudah jadi tantangan, sebab cerpen kategori Alice Munro adalah cerpan (cerita panjang) yang bisa mencapai 30 halaman.

Bohong jika saya sebut kumpulan cerpen ini mudah. Namun beberapa bagian tidak se”awang-awang” yang saya kira. Saya menyerah bila menghadapi karya sastra yang supersurealis dan simbolnya abstrak banget, baik dari penulis dalam negeri maupun luar. Alice Munro masih “berbaik hati” karena tidak menyertakan permainan kata, teka-teki, dan sejenisnya. Ada sih puisi sedikit.

Ia menghadirkan suasana utuh dengan aneka diksi dan plot yang “sepi”. Di situlah segi nikmatnya, kendati kadang saat meluncur dari alinea ke alinea, saya merasa, “Lho, gitu doang toh akhirnya?” Toh hidup memang begitu. Cerpen-cerpen Munro memotret keseharian yang terasa biasa, tidak meledak-ledak, tapi “mengikat emosi”. Kemuramannya sangat terasa karena beberapa wanita yang menjadi tokoh utama dikisahkan merawat orangtua yang sakit, ada pula suami yang berbuat demikian untuk jangka waktu cukup lama. Saya jadi punya teman.

Menyenangkannya, editor memberi saya keleluasaan untuk menggunakan kosakata, menilik latar waktu buku ini dan sesekali “membelot” dari KBBI. Misalnya dari cerpen “Mata” ini (disalin dari arsip, sebelum disunting):

Kecelakaan itu tak melukai leher dan wajahnya namun tak langsung kusadari itu. Secara umum, terkesan penampilannya tak semengerikan yang kukira. Kupejamkan mata cepat tapi ternyata aku terus melihatnya lagi. Awalnya ke bantal kuning kecil di bawah leher Sadie yang juga menutupi leher, dagu, dan sebelah pipi yang mudah kulihat. Kiatnya melihat sekejap, kemudian kembai ke bantal tadi, dan kali lain melihat bagian berbeda yang tak kautakuti. Lalu tampaklah Sadie, seluruhnya atau paling tidak yang bisa kulihat dari sisi kosong.

Sesuatu bergerak, kulihat itu, kelopak matanya di sisiku berdiri bergerak. Tidak terbuka atau agak terbuka atau semacam itu, hanya terangkat sangat sedikit dan masuk akal, kalau kau jadi dia, kalau kau ada dalam dirinya, sehingga dapat melihat diam-diam. Mungkin hanya untuk membedakan apa yang terang di luar dan apa yang gelap.

 

Bukan kebetulan, saya tengah sulit tidur ketika menerjemahkan yang berikut ini:

Cukup lama seluruh rumah mengubah kebiasaan terang di siang hari dan menyalakan lampu di larut petang. Meninggalkan kelotak umum berbagai hal yang dikerjakan, digantung, dirampungkan, rumah ini menjadi kawasan asing tempat orang dan pekerjaan yang mengatur hidup mereka luluh, manfaat mereka untuk segalanya di sekitar luluh, semua perabot telantar dan tak lagi diperhatikan siapa pun.

Saya pernah sangat gembira saat menemukan halaman-halaman yang berisi dialog melulu. Alhamdulillah suami tengah punya waktu luang sehingga dapat menyunting tahap awal hasil terjemahan saya, kemudian saya baca lagi, demi kemudahan penyunting dan korektor.

Mungkin kiat pribadi saya: jangan terlalu keras berusaha mengerti maksud cerita. Seperti kata Dave Rossi pada Spencer Reid di salah satu episode Criminal Minds, “You can’t control the process. Let it happen.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)