steal

Setelah membaca Kreatif Sampai Mati alias KSM,¬†ditawari menerjemahkan buku Austin Kleon ini adalah rezeki nomplok. Sekitar pertengahan tahun lalu, Icha (editor Nourabooks) menghubungi saya lewat Whatsapp. Untuk itu saya harus berterima kasih pada Mas Agus yang menghadiahkan Android di ulang tahun perkawinan kami tahun kemarin ūüėČ

Kembali ke Steal Like An Artist, buku seru ini termasuk rujukan Wadit untuk menulis KSM. Mungkin kedengaran remeh atau, seperti kata seorang teman editor, tidak substansial, tapi salah satu yang bikin saya senang adalah sampul hitamnya. Itu tergolong pemilihan warna yang kreatif, bersaing di etalase dan rak toko buku tidak melulu harus pakai warna jreng mencolok mata.

Meskipun relatif tipis, Steal sangat padat dan kaya. Menerjemahkannya seperti berhura-hura. Betapa tidak, saya masih sempat membaca buku aslinya dari awal sampai akhir, kemudian iseng-iseng merekam suara ketika membaca beberapa paragraf di ponsel. Itu akibat tertular “wejangan” Austin Kleon untuk mengolah aneka trik sederhana dengan memanfaatkan perangkat yang ada, sekadar mengatasi kejemuan.

Sepanjang menerjemahkan, seperti biasa saya melakukan studi observasi (dengan konsekuensi dituduh stalker) terhadap penulis yang cukup terkemuka ini. Saya follow blognya, instagram, twitternya juga. Buntutnya malah seperti “berteman”. Seusai menerjemahkan pun, saya masih gemar menyimak ide-ide dan postingan Kleon. Bahkan sering kali niat bertanya saya urungkan, karena Kleon berprinsip, “Ask me anything you can’t google.”

Kendati judulnya bisa jadi mengagetkan, penulis bukan mengajarkan penjiplakan atau pencurian dalam arti sebenarnya. Maksud Kleon adalah belajar dari para pendahulu, yang pasti dialami semua orang. Seperti di halaman 41, dia berkata, “Kekurangan manusia yang menyenangkan adalah kita tidak mampu meniru dengan sempurna.” Konsistennya Kleon terbukti dengan membiarkan orang “mencuri” darinya, dia menyediakan blogger kit untuk membuka-buka isi bukunya di situ.

Bagian paling menggedor dan saya resapi adalah Menjauhlah dari Monitor (hal. 53).

Meskipun aku menyayangi komputerku, kurasa komputer merampas perasaan bahwa kita benar-benar menghasilkan sesuatu. Kita hanya mengetik dan mengklik mouse. Inilah sebabnya apa yang disebut ide dan informasi tampak abstrak.

 

Pernah dengar “kerja seperti bernapas”? Itulah asyiknya berproses kreatif.

 

Lalu yang bikin ngakak karena “saya banget”:

Sewaktu aku ikut workshop menulis kreatif di kampus, semua karya kami harus berspasi ganda dan memakai huruf Times New Roman. Karyaku jadi kacau. Menulis tak lagi mengasyikkan bagiku.

Karena itulah saya mulai bermain-main lagi dengan tulisan tangan, memberdayakan tangan yang sering nyeri dan pegal (alhamdulillah sudah berkurang), bahkan memperoleh kegiatan baru yang mengasyikkan. Setelah menerapkan gagasan Kleon mengenai meja kerja dan aktivitas¬†manual, saya tidak terlalu jengkel bila kena pemadaman bergilir. Mengingat pentingnya hobi, saya teruskan motret-motret “sembarangan” walaupun disenggol teman agar lebih serius dan ikut kontes saja. Sampai sekarang, saya menikmati untuk diri sendiri semata. Lebih jauh dari itu, bisa jadi beban dan kurang rileks.

Sebenarnya saya ingin menghadiahkan buku Steal ini pada keponakan yang hobi menggambar. Semasa kecil, agar semangat belajar, orangtuanya menyediakan papan khusus untuk corat-coret dan menggambar sewaktu bete (dilakukan sambil manyun). Dia pun senang belajar menulis huruf Arab dengan Mas Agus, karena seperti menggambar juga. Sayangnya sebelum terbit, dia keburu terbang ke Bali untuk sekolah. Semoga kelak tidak kehilangan sisi kreatifnya:)

Serunya lagi, akhir pekan kemarin adik sepupu membaca-baca bukti terbit saya dengan penuh minat. Tentu saja, sebab seperti juga Wadit, Kleon berpendapat bahwa kreativitas bukan monopoli seniman. Saya sendiri masih bolak-balik membaca buku ini untuk menyegarkan diri dan “mengulangi pelajaran”.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

6 Responses to “ Cerita Penerjemahan “Steal Like An Artist” ”

  1. gravatar Yono Reply
    August 2nd, 2015

    Mbak, pengalamannya juga menarik. Gak kalah sama buku yg diterjemahkan.
    Tertarik utk menerjemahkan Human Comedy karya William Saroyan, Mbak? Bagus lho isinya. Ada dua versi. Versi asli dan versi revisi. Menurut seorg guru sastra Inggris di AS, versi asli lbh bagus dp versi revisi.
    Coba deh Mbak diterjemahin terus diterbitkan. Banyak yg minat lho.

    Thks.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      August 18th, 2015

      Mas, terima kasih sudah berkenan mampir dan baca pengalaman saya. Juga untuk masukannya. Hanya saja sejauh ini saya masih tergantung tawaran penerbit, dan belum kompeten untuk menerjemahkan Human Comedy:)

  2. gravatar Azuma Sakira Reply
    November 18th, 2015

    Penerjemahan buku Austin Kleon sangat bagus dan enak di baca… Rasa.a jd ktagihan baca buku.a berkali-kali…
    Trimakasih kak…

    • gravatar Rini Nurul Reply
      November 19th, 2015

      Terima kasih sudah membaca, Azuma:)

  3. gravatar Eryek Reply
    January 24th, 2016

    Salam. Mbak, terjemahannya asyik. Saya sependapat dengan Mbak tentang isi buku Austin. Terus terang, buku ini Gue Banget. Mulai tiru-tiru semua yang disampaikan. Web mbak juga asyik.. Sukses terus. Salam

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 25th, 2016

      Salam, alhamdulillah… terima kasih banyak sudah membaca buku itu dan bertandang kemari:)

Leave a Reply

  • (not be published)