Sama dengan Macaroon Love, saya berkesempatan melihat-lihat naskah unggulan Lomba Menulis Novel Romance Qanita ini ketika main ke kantor Mizan untuk mengambil materi terjemahan The Casual Vacancy. Berkasnya saya baca-baca dulu dan langsung tertarik. Di kantor, Mbak Esti sudah menjelaskan sedikit mengenai profil penulisnya. Jujur saya baru dengar karena begitu banyak penulis zaman sekarang ini, namun cukup menaruh minat karena penulisnya masih kuliah dan mengantongi jam terbang lumayan banyak.

Saya bukan penggemar kisah cinta yang “seratus persen roman”, utamanya hanya menyangkut perasaan lawan jenis. Apalagi bila sejolinya belum menikah. Penulis menyuguhkan keragaman persoalan dalam hidup. Ada cinta kasih pada ibunya, antara lain. Cerita sudah membingkis banyak problematika dan karakter yang kompleks, termasuk tokoh utamanya yang menderita gangguan pendengaran.

Jadilah novel ini kaya. Ada elemen arsitektur, astronomi sesuai minat penulisnya, musik klasik, drama keluarga, dan traveling yang dikaitkan dengan pencapaian cita-cita. Bagi saya, ini mengesankan karena relatif jarang novel lokal yang mengangkat pembahasan kehidupan perkuliahan apabila tokoh sentralnya berstatus mahasiswa. Di sini, status itu bukan tempelan belaka. Ada cerita jatuh bangun mengerjakan tugas, betapa rumitnya menggambar garis (dan saya tahu itu, selaku pemilik mata silindris yang kesulitan menghasilkan garis lurus lagi rapi), dan beberapa hal lain.

Uniknya lagi, novel ini hampir tidak menyebut-nyebut aktivitas online dan gadget yang kini tengah merajalela. Penulis berinisiatif merevisi sendiri lebih dulu, saya tinggal mengecek konsistensi karena semula novel ini memakai sudut pandang orang pertama. Juga beberapa istilah bahasa Belanda yang mengharuskan saya googling.

Di mata saya, kehidupan Rahani sang karakter sentral cukup pedih. Ada satu kejadian yang membuat saya ngilu. Di samping itu, ada kemiripan antara saya dan Riksa. Tapi rahasia:))
Kerennya, “Kisah Langit” tidak mengalami perubahan judul. Saya sempat mengusulkan satu petikan dialog untuk ditampilkan di awal (bagian dalam), namun rupanya ada yang lebih berterima:D

Sekian bulan setelah menyunting novel ini, saya menonton tayangan Sarah Sechan yang menghadirkan harpist pria pertama di Indonesia. Saya teringat Kisah Langit dan mikir, “Kapan ya terbitnya?” Ternyata tak lama kemudian, MMU mengabarkannya di Twitter:))


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)