SANGPATRIOTrev21

Barangkali ini penyuntingan novel karya asli terlama dalam perjalanan karier keeditoran Mas Agus. Pasalnya, ini pertama kali dia menyunting atas permintaan langsung empunya naskah (sang penulis). Ada “comblangnya” sih, yaitu Mbak Esti. Saya pribadi sudah beberapa kali mendengar nama Mbak Irma Devita selaku praktisi hukum dan penulis beberapa judul buku bertema hukum.

Sejak “pasang kuping” di awal obrolan, saya sudah menaruh minat juga. Tema sejarah, yang jelas paling cocok dengan Mas Agus, dipadu roman dan poin terpentingnya: sang tokoh utama benar-benar ada. Saya ikut-ikutan riset online mengenai Letkol Moh. Sroedji untuk mendukung materi lengkap yang dikirim Mbak Irma berupa video dan bahan-bahan referensi lainnya. Mas Agus juga menyebut nama beliau ketika ngobrol dengan tetangga yang asli Jawa Timur, sekadar gambaran berapa banyak yang mengenal Pak Sroedji. Omong-omong, saya masih “kepleset” nyebut “Sroji” daripada “Sruji”.

Ihwal rujukan cetak yang juga diperbincangkan dengan penulis, saya sudah menduga Mas Agus akan menyebut Maling Republik. Berlatar Jawa Timur juga, ada pertempuran dan sejarah. Berhubung ini karya fiksi perdana Mbak Irma, kami harus ekstra hati-hati sembari mengomunikasikan harapan, misi, dan pesan yang ingin beliau sampaikan dalam novel.

Menciptakan aroma roman yang kental “jadulnya” itu lumayan menantang. Soal poles-memoles bahasa romantis (setidaknya untuk masanya), Mas Agus lebih kompeten daripada saya. Sebelum postingan ini ditulis, kami senyum-senyum membaca beberapa ulasan pembaca yang menyebut suka adegan pertemuan di pasar. Seperti apa romantisnya, silakan Anda baca sendiri:)

Guna mendukung proses penyuntingan, saya membantu menghidupkan suasana. Katakanlah, memutar video lagu keroncong Bunga Anggrek (dalam novel dimainkan Pak Sroedji) yang ternyata pernah dinyanyikan Sundari Sukoco dalam bahasa Belanda. Wah, dapet banget:D Sebentar-sebentar kalau mau kembali meneruskan ngedit, Mas Agus berkata, “Yuk ah, ke sini dulu. Oh Rukmini, Rukmini…” Karakter istri Pak Sroedji (nenek Mbak Irma) ini cukup menonjol dan dominan. Menurut saya bukan hanya menunjukkan segi roman, tapi juga kekuatan pribadi beliau. Kami membaca “harapan” seorang penikmat novel ini agar jika difilmkan, Ibu Rukmini diperankan Wulan Guritno, kami kurang setuju. Kata Mas Agus, “Kurang Madura, dan kurang muda.” Pasalnya, Ibu Rukmini bahkan belum berumur 30 tahun ketika sang suami meninggal.

Penyuntingan yang tadinya digadang-gadang selesai dalam dua bulan mundur sebulan lagi karena beberapa elemen tambahan dan perlu dibahas ulang. Sepanjang tahap itu, kami salut pada kegigihan dan ketekunan Mbak Irma. Ada pengalaman unik yang relatif jarang buat kami, naskah dan hasil editan dibaca putri beliau. Kesan-kesannya jadi masukan, kadang jadi bahan pertimbangan, dan pengetahuan bahwa memang selera pembaca Indonesia begitu beragam. Pengalaman lain yang tak kalah seru buat saya selaku editor pendamping ( 😀 ), bertemu dialog bahasa Madura. Lagi-lagi nilai plus untuk saya yang cinta bacaan (fiksi) bernapas lokal.

Hal lain yang kami dapati dari kesan pembaca: kebanyakan merinding dan seram di bagian-bagian tertentu. Sesungguhnya perang yang disajikan dalam novel ini sudah dikemas sedemikian rupa. Kalau ada adegan “sadis”, ya memang semestinya perang mengandung “kekerasan”. Buat saya pribadi, satu bab yang menggetarkan adalah tahanan yang disekap dalam kereta. Namun bagian favorit yang bikin merinding sewaktu membaca ulang hasil suntingannya (alias mem-proof) adalah ketika Rukmini mengungsi dalam keadaan hamil tua. Duh, ikutan mules.

Alhamdulillah, novel ini lahir dengan selamat. Desain sampulnya cantik sekaligus tetap menghadirkan hawa perjuangan yang kentara. Proses penggodokan judulnya juga seru:)

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)