Dia mencengkeram poni plastik oranye itu dalam saku jaketnya. Benda itu terasa lengket di tangannya. Saat ini pertengahan musim panas, terlalu gerah untuk busana yang dipakainya. Tetapi dia telah belajar untuk mengenakan seragam demi tujuan ini; terutama jins. Dia melangkah lebar-lebar—langkah pria yang memiliki tujuan, meskipun kakinya pincang. Harper Curtis bukan benalu. Dan waktu tidak menunggu siapa pun. Kecuali ketika itu harus terjadi.

tsg

Seorang rekan seprofesi pernah berkata, dunia perbukuan ini sempit. Sependek pengalaman saya, rodanya pun terus berputar. Beberapa kali saya kena giliran menyunting terjemahan pekerja buku yang dulunya menyunting hasil terjemahan saya, baik sebagai editor in house maupun lepas. Saya suka memantau dan mempelajari hasil kerja mereka yang sudah berpengalaman, melihat diksi yang matang atau hal-hal lainnya.

Sejak terjun menjadi editor, saya terbiasa tidak bersyak wasangka pada penulis yang belum dikenal. Asyiknya, Lulu juga suka menelaah latar belakang penulis dan berkomunikasi dengannya dalam proses penerjemahan. Sejauh ini saya menarik anggapan tertentu (yang bisa jadi keliru) bahwa umumnya wanita pengarang lebih “berani” merinci kesadisan dan kekerasan. Seperti dibeberkan artikel ini, cukup banyak wanita yang mampu mencari nafkah dengan membunuh dalam fiksi.

Gaya Lauren Beukes yang menggunakan POV bergantian langsung membuat saya jatuh cinta. Walaupun demikian, dia tidak memakai kata ganti orang pertama. Barangkali agar pembaca tidak terlalu bingung, mengingat penulisan The Shining Girls dipadukan dengan lompatan waktu maju-mundur. Namun karena begitu menawannya cerita (dari kacamata penggemar thriller), saya tetap menikmati novel ini. Terutama Harper Curtis si pembunuh yang sejak awal dihadirkan. Lulu sempat bilang, “Rini doyan thriller banget, sih.”:p

Kembali pada penerjemahan, tak ayal saya menaruh perhatian lebih karena Lulu pernah mengikuti pelatihan yang sarat praktik. Sebelum ini, kebanyakan terjemahan Lulu yang saya baca bergenre nonfiksi pula. Ternyata diksinya semakin “tajam”, dalam arti mengena dan pas dengan thriller yang indah ini. Berikut contohnya:

Brown is the color of shrimping, when the mud is all churned up in the

shallows and you can’t see shit for shit.

Cokelat warna yang keruh, mirip lumpur yang teraduk-aduk di dangkalan sehingga tidak kelihatan apa-apa.

 

Then her mother says, ‘Go back to bed, Kirby, I’m fine.’ Kirby knows she’s not.

Kemudian ibunya berkata, “Sana tidur lagi, Kirby, aku baik-baik saja.” Kirby tahu itu tidak benar.

 

Lauren Beukes menyisipkan permainan kata yang lumayan sering muncul, semisal:

She used to do drawings for women’s magazines, but now ‘my style is out of fashion, baby –

it’s fickle out there.’ Kirby likes the sound of the word. Fickle-pickle-ticklefickle.

Rachel dulu kerap menggambar untuk majalah wanita, tetapi sekarang “gayaku sudah ketinggalan zaman, Nak—sudah usang.” Kirby menyukai bunyi kata itu. Usang-gersang-insang-usang.

Bagian cerita yang bikin saya makin semangat membaca (maksudnya ngedit:D) adalah kliknya Kirby dan Dan Velasquez, atasannya saat magang di surat kabar. Dialog mereka lancar dan hidup, membuat saya mampu membayangkan keduanya sembari menyunting yang dapat dirampungkan selama kurang-lebih seminggu. Lauren Beukes juga kuat dalam perwatakan, hingga tiap karakter korban Harper hadir dengan ciri masing-masing. Begitu pula pria berbahasa Portugis yang tidak saya ingat namanya. Semua tokohnya penting, sebentar ataupun lama. Tetap saja Kirby yang paling merebut “panggung” selain Harper, karena saya suka karakter wanita yang berani melawan dan dilukiskan biasa saja, bukan perempuan cantik “sempurna”.

Komunikasi dengan Lauren Beukes tak kalah asyiknya, seperti saat saya terantuk bahasa Spanyol:

Hi Lauren,

your answer does help a lot.

Another thing I can’t figure out, some Spanish expression that Dan said. What “Bendito sea Dios, dame paciencia”? Blessed you God… and something?

 

Jawaban Lauren sbb:

It’s Puerto Rican Spanish slang.
I can’t remember the exact phrasing, but it’s
It’s an appeal to God and Mary, mother of God. Like madre de dios.

Jadi kejutan tersendiri karena novel thriller ini terbit relatif cepat seusai penyuntingannya, bahkan mendahului naskah terjemahan lain yang saya sunting untuk editor penanggung jawab yang sama. Bukannya saya tidak senang, malah gembira banget. Apalagi melihat covernya yang jebret keren itu. Sampul merah karya Martin Dima sudah “berteriak” bahwa ini cerita thriller:D


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Cerita Penyuntingan “The Shining Girls” ”

  1. gravatar lulu Reply
    June 21st, 2015

    Makasih tulisannya, Rin. Buatku ini memang salah satu penerjemahan yang menantang karena permainan katanya. Dan dengan sentuhan suntingan Rini, buku ini jadi semakin mulus. Semoga kalau sempat, aku juga bisa menceritakannya di blogku (yeah right… kata blog yang berdebu XD)

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 22nd, 2015

      Kutunggu dengan sabar, Lul:)
      Sebenarnya banyak yang ingin kutumpahkan tentang TSG ini namun kupelintir supaya tidak jadi spoiler:D

Leave a Reply

  • (not be published)