Hasil temuan dari sebuah forum online. Nama dan judul sengaja tidak saya sebutkan.

Novel-novel —– (dan —- pada umumnya) sepertinya memang yang
paling sering ngalamin hambatan. Gaya menulis dia
itu terhitung “berat”. Buat teman-teman penggemarnya dan pernah atau
malah sering membaca buku aslinya pasti bisa merasakan bahasa dia tuh berada di
level yang relatif lebih tinggi dibanding penulis-penulis lainnya. Cara
pendeskripsian yang sangat detail, dengan pilihan kata yang nggak umum dipakai
pada kebanyakan novel romance, plus istilah-istilah khusus dan permainan kata
yang kalau diterjemahkan secara plek-plek ke bahasa Indonesia pasti jadinya
aneh.

Alhasil, novel —– merupakan tantangan tersendiri bagi para penerjemah dan
editornya. Waktu kita membaca buku asli, beberapa detail yang sepertinya nggak
terlalu penting dan cuma bersifat “hiasan” bisa kita lewat aja. Yang penting
secara garis besar kita mengerti jalan ceritanya, bukan? Tapi bagi penerjemah,
dan terutama editor, semua “hiasan” tadi juga penting dan nggak bisa main
dihapus begitu saja hanya karena kami nggak ngerti, karena baik penerjemah
maupun editor WAJIB menerjemahkan sesuai tulisan si penulis (kalo kata artis
mah, ini tuntutan profesi :p) kecuali sensor ala kadarnya.

Ada kalanya kalau udah kepepet, penerjemah main hajar bleh dengan menerjemahkan
kata per kata, nggak peduli secara kaidah bahasa Indonesia maupun logika
terjemahannya nggak masuk akal. Nah, editor yang baik (taelah :p) nggak bisa
melakukan itu. Prinsipnya, kalo kami aja yang pernah baca buku aslinya nggak
ngerti, gimana pembaca yang benar-benar mengandalkan hasil terjemahan? Jadilah
editornya yang harus kerja keras mengedit hasi terjemahan si Ableh tadi. Kalau
si Ableh nerjemahinnya ngaco abis, editor bisa dibilang menerjemahkan ulang! Dan
itu jelas butuh waktu lebih panjang…

Itu baru hambatan dari segi materi naskah. Hambatan berikutnya bisa jadi faktor
eksternal. Bisa jadi penerjemah dan editor tertimpa musibah, mulai dari sakit,
ada kerabat yang meninggal, ada keperluan mendadak, dll. Kali lain mungkin ada
masalah di percetakan, pengiriman ke gudang terhambat karena banjir, dll. Semua
faktor yang di luar kendali ini bisa menjadi penyumbang faktor kenapa novel bisa
meleset dari jadwalnya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)