goodreads.com

Penulis: Mary Hoffman

Penerbit: Bloomsbury, 2008

Tebal: 457 halaman

Ketika cerita buku kedua Stravaganza ini menghadirkan persentuhan dengan kuda, saya teringat banyak buku menawan mengenai kuda. Salah satunya Black Beauty yang menjebol bendungan air mata, juga Bill dan Clarissa dua sahabat penggila kuda di seri Malory Towers-nya Enid Blyton. Makin spesial karena Mary Hoffman bukan hanya mengupas kuda biasa, melainkan kuda sembrani yang dipercaya mendatangkan keberuntungan terkait Stellata, pertandingan kuda tahunan di sebuah kota.

Kembali, napas Italia yang dicintai sang penulis berembus kuat di buku ini. Mary Hoffman mengaku, dalam e-mailnya, buku ini terbilang rumit. Bagaimana tidak, ada kota yang terdiri dari sejumlah wilayah dan masing-masing diberi nama seperti zodiak. Ada yang berkubu, ada yang berseberangan. Stravaganza masih setia dengan plot bernuansa politik yang menjadikan fantasi ini berbeda, setidaknya di mata saya.

Karakter pusat di buku kedua adalah Georgia, dengan latar belakang tak kalah menarik daripada Luciano dengan sakit kankernya sebelum pergi ke Bellezza. Georgia gadis remaja yang ditindas kakak tirinya, cukup ironis mengingat Maura sang ibu adalah petugas sosial dan tidak tahu-menahu (atau terkesan tak mau tahu) akan perilaku anak tirinya itu. Problema Georgia ini menjadikan cerita mendebarkan, apalagi setelah ia menginjakkan kaki di negeri yang asing, bertemu Luciano, setelah sebelumnya berkenalan dengan Cesare dan Paolo. Keluarga hangat yang menyentuh hati.

Arianna sudah naik takhta dan mulai menghadapi aneka persoalan negara. Ia masih harus belajar, tahu-tahu dihadapkan pada uluran diplomatis berupa lamaran putra musuhnya. Arianna harus taktis sebagaimana ajaran sang ibu, tapi juga tak mampu menyangkal isi hati. Lebih rumit lagi karena adik pangeran yang tidak tampan namun sangat baik budi itu memiliki misi khusus sehingga ingin mengenal dekat Luciano dan Georgia.

Petualangan Georgia begitu penuh semangat, menyenangkan, mengalirkan kegembiraan dan debaran khusus ketika berpindah-pindah tempat, demikian juga persahabatannya dengan seorang pemilik toko barang antik. Tidak lupa, plot cepat yang mengasyikkan.

Mary Hoffman mengatakan, “This is a book for fathers“, dan itu benar adanya. Penutupnya menggetarkan hati dan sangat mengharukan.

Skor: 5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)