Poster dipinjam dari sana

Samar-samar saya ingat desainer kenamaan ini pernah disebut dalam salah satu materi perkuliahan, berikut potongan kisah hidupnya. Berbekal kenangan itu, saya tertarik menonton film ini. Shirley MacLaine merupakan faktor yang memperkuat keingintahuan tersebut.

Dengan teknik flashback, karakter Chanel – yang lahir dengan nama Gabrielle – memang sudah tangguh sedari mula. Ia dan Julia, adiknya, dititipkan di panti asuhan Katolik oleh sang ayah sepeninggal ibu mereka. Begitu melihat dari jauh bahwa ayahnya telah memulai hidup baru dan tidak memenuhi janji untuk menjemput kembali, Gabrielle mengajak Julia melupakannya lalu menjalankan wasiat ibu mereka guna mengurus sang adik.

Pada usia 18 tahun, dengan kemampuan menjahit yang baik, Gabrielle bekerja di sebuah butik. Di sana dirinya dan Adrienne berkenalan dengan pelanggan pria, salah satunya seorang serdadu bernama Etienne Balsan. Gabrielle, yang kemudian populer dengan sebutan Coco, terpikat oleh Etienne dan meninggalkan pekerjaan untuk hidup serumah dengannya di Belgia.

Tentu saja tidak mudah bagi Coco yang sederhana untuk beradaptasi dengan pergaulan Etienne. Satu-satunya yang membuat gadis itu nyaman dan mengajari berbagai hal, sekaligus membuat Coco yakin akan diri sendiri, adalah sahabat lama Etienne, pria Inggris bernama Boy Capel. Ketangguhan Coco semakin tampak ketika ia menjajal potensinya mendesain topi. Untuk mencapai cita-cita, ia tidak segan mulai dari awal. Seperti katanya pada Boy suatu kesempatan,

“Bila aku gagal di ronde pertama ini, aku tak akan menyerah.”

Jatuh-bangun Coco memang menawan, menjadikan film yang diperuntukkan televisi ini tak terasa panjang dan membosankan. Sependek pengalaman saya menonton film mengenai desainer dan dunia mode, baru kali ini menemukan rincian dari nol lengkap dengan gambar-gambar indah tangan Coco menjahit (kelak ia melarang pegawainya menggunakan mesin). Ia juga berani melawan arus, merancang pakaian dari jersey yang sempat dikira kashmir oleh pelanggan, tidak hanya melayani konsumen kelas atas, dan memendekkan rok sedikit untuk menyesuaikan dengan situasi.

“Wanita harus bekerja, jadi perlu bergerak dengan gesit. Wanita kaya memakai rok panjang-panjang karena ada pelayan yang membantu memakaikannya.”

Kendati keras kepala, agak eksentrik (suatu ketika ia berkata, “Hanya kepada dirikulah aku berutang.” serta, “Memangnya kau bisa pakai otak dengan baju itu?”) dan mementingkan kemandirian, Coco tidak menampik kebutuhan manusiawi akan cinta. Jadilah film yang indah, klasik, dan kisah nyata menggugah yang tidak mudah dilupakan, bagi orang yang tidak terlalu peduli mode seperti saya sekalipun.

Dua hal yang saya amati: kendati berlokasi di Prancis, seluruh film berbahasa Inggris dan adik Coco hanya dikisahkan di permulaan film.

Skor: 3,5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Coco Chanel (2008) ”

  1. gravatar Nunik Reply
    February 17th, 2012

    Waahh, pengen nonton. Ini khusus untuk TV, Mbak? CDnya dijual gak ya? Dan, kayaknya enak banget nih nonton ini trus buka-buka kamus fashion ^_^

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      February 18th, 2012

      Aku nontonnya di DVD kok, Nik. Tapi ternyata film TV. Pantes agak panjang:) Fashion-nya sih nggak terlalu dominan, lebih banyak ke kisah perjuangan Coco Chanel:)

Leave a Reply

  • (not be published)