Tercapailah cita-cita meniru meja ayah di buku Adi

Yang ini disampaikan langsung kepada penulisnya, sesuai permintaan beliau.

  • Sebenarnya Anda punya bakat jadi penulis komedi. Lucunya natural, entah kenapa saya punya feeling Anda nggak menyengajakan humor, tapi jadinya begitu. Jadi nilai plus tersendiri karena saya rasanya belum pernah nemu novel sejenis yang ada unsur humornya.

    Gaya bahasa cukup “menjual”. Saya tidak anti bahasa puitis, tapi tidak bisa dibilang suka banget. Saya perhatikan di kalangan pembaca muda, pada seneng gaya bahasa seperti itu.

    Keberanian mengambil tokoh utama yang tidak “sempurna”, dalam arti terkesan hero seratus persen, bahkan sering bikin gregetan. Mungkin ini kekurangan bagi Anda, tapi buat saya tokoh utama yang serbabaik dan mudah berhasil itu membosankan. Di sini “hero”-nya mungkin (nama tokoh pendukung).

  • Ada sejumlah kalimat/dialog yang bisa dijadikan kutipan.
  • Tatabahasa, utamanya ejaan dasar sudah cukup baik. Tapi ini keharusan ya, apalagi Anda sudah menerbitkan buku. Masa bikin pusing editor:p

    Yang lain-lain:
    Saran saya hati-hati dalam berpuitis. Kosakata kadang berlawanan atau bahkan terlalu banyak sinonimnya, misal “bergemuruh berbunga-bunga”. Di lain pihak, ada yang perlu divariasikan seperti “berkemilau” yang munculnya banyak sekali.

    Saya pribadi kurang sreg kata “ia” jadi kata ganti benda mati, tapi saya hormati gaya penulis. Kadang-kadang saja saya ganti.

    Deskripsi sebaiknya dipastikan benar-benar perlu. Jangan sampai pembaca jenuh dan melompatinya, kan sayang sudah ditulis panjang-panjang dan memeras otak memilah kosakata:)

    Kalau ada prolog, harus ada epilog. Namun prolog dan bagian akhir jangan sampai sama persis, ada misteri atau yang samar-samar di prolog.

  • Cukup disayangkan karena ambisi meluap-luap di awal ternyata tidak mengemuka lagi di akhir. Cita-citanya mengembalikan pinjaman, misalnya, sebenarnya bisa ditambahkan dan jadi bab yang menarik. Belum lagi tokoh-tokoh unik di bab awal, tidak muncul/diceritakan lagi. Tapi mungkin Anda punya tujuan sendiri.
  • Ini juga saran, saya mengerti Anda suka bahasa Inggris dan buku terjemahan. Alangkah baiknya menulis dengan gaya mengindonesia yang luwes. Atau setidaknya dikurangi porsi struktur terjemahannya. Kalau ini ternyata gaya Anda, saya hormati saja:)

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)