Lima tahun silam, saya menyunting novel Islami karya penulis domestik. Entah apakah novelnya sudah terbit atau belum, bahkan kiprah penerbitnya pun tidak terdengar lagi. Berikut catatan masukan yang saya buat, sekadar gambaran untuk berlatih menyunting.

 

  1. Paragraf awal sebaiknya dimulai dengan aksi atau dialog, supaya lebih hidup dan menarik pembaca untuk menyimak paragraf-paragraf berikutnya.
  2. Memperhatikan penggunaan tanda baca, huruf besar, dan ejaan yang dimiringkan untuk bahasa asing serta aturan tata bahasa baku lainnya.
  3. Pengenalan karakter utama (Rizal) agak membingungkan karena diawali dengan uraian deskripsi masjid. Sebaiknya di permulaan, langsung disebutkan bahwa ia bernama Rizal. Kemudian dilanjutkan dengan keterangan berikutnya.
  4. Disarankan meringkas kalimat untuk menghindari kejemuan pembaca.
  5. Keterangan mengenai kedua orangtua Rizal belum ada. Juga beberapa keterangan rinci lain misalnya menyangkut tempatnya menuntut ilmu.
  6. Terjemahan bahasa Arab sebaiknya dijadikan catatan kaki supaya cerita tetap enak dibaca, tidak tersela.
  7. Dialog perlu dipersingkat, antara lain ucapan ibu Rizal di bab ketiga.
  8. Penggantian judul bab agar pembaca lebih penasaran.
  9. Data diolah pemaparannya sedemikian rupa supaya setting lebih pas, tidak terkesan seperti buku laporan perjalanan.
  10. Plot dipercepat, khususnya di bagian perkenalan Rizal dan Hanny.
  11. Bahasa gaul lebih diperhatikan ejaannya, yang lazim dalam dialog (lisan). Misalnya ‘nggak’ bukan ‘ga’.

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)