rp_925886_718406191565382_504308332_a.jpg

Ceritanya kurang fokus. Ada beberapa subplot yang berpotensi sebagai konflik:

  • Latar belakang masa lalu Johan yang meski sekilas cukup perlu untuk menjelaskan penampilannya
  • Dunia kerja Johan seiring hubungannya dengan Sasya
  • Kedekatan Sasya dengan Bob yang membuat Bob menaruh harapan

Karena konfliknya sangat banyak, setelah dibaca sampai akhir, alangkah baiknya dipertajam dan dipersempit menjadi dua saja yaitu romansa Sasya-Johan dan problematika Sasya dengan ayahnya. Ini mudah dikaitkan dan berkembang seiring.

Oleh karena itu, sangat dianjurkan tokoh Bob dihilangkan saja. Kehadirannya dan keterangan hobi fotografinya, serta lain-lain, menggamangkan pembaca. Ruang yang ada lebih baik digunakan untuk mempertajam kedua konflik utama.

Penulis memilih alur flashback sedari awal, namun sebenarnya tidak perlu. Plot lurus saja sudah sesuai untuk mengisahkan Sasya-Johan mengingat keduanya membawa perjalanan yang kompleks. Contohnya, detail dan asesoris cerita tentang Eropa dan kuliah Sasya  sudah cukup “ramai” sehingga pembaca tidak akan bosan dengan plot lurus tadi. Sesekali flashback tidak mengapa, asalkan diperjelas. Dipecah halamannya, alineanya, atau apa saja sebagai penanda/pemisah.

Karena menggunakan sudut pandang beberapa orang ketiga tunggal bergantian, sering kali jalan cerita membingungkan. Ini disebabkan kata ganti yang selalu “ia” dan lompatan mendadak di adegan-adegan tertentu. Untuk membantu pembaca, sebaiknya tetap menggunakan nama di bagian awal bab. Alangkah baiknya judul bab diberi nomor. Boleh juga diganti dengan nama tokoh yang sedang muncul, misalnya

  1. Bab I Johan
  2. Bab II Sasya
  3. Dan seterusnya

 

Perbedaan Johan dan Sasya secara emosi belum terbangun. Johan masih terasa “kurang lelaki”. Dia dikisahkan pernah patah hati dan bimbang oleh perjodohan, tapi seketika terkesan tertarik pada Sasya sejak pertemuan pertama. Gengsi dan egonya kurang tergali. Demikian pula Sasya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)