Sebenarnya hampir semua editor in house pernah mengalami kejadian seperti ini, tapi yang lain belum saya mintai izin untuk diposting di sini.

Alkisah, pada suatu tahun seorang editor ditunjuk sebagai penanggung jawab satu seri buku. Atasannya memberi beberapa nama penerjemah dalam daftar untuk dikontak. Singkat cerita, salah seorang yang menyatakan ‘sedang kosong’ (alias tidak ada jadwal) menyanggupi penerjemahan seri ini.

Buku pertama dan kedua diserahkan tepat waktu. Memasuki buku ketiga, mulai tersendat-sendat. Sebulan kemudian, sang editor menghubungi penerjemah bersangkutan. Jawabannya?

Ia mengaku menggunakan tim, dan membutuhkan waktu ekstra untuk meninjau ulang sebelum disetorkan ke penerbit.

Hasil diserahkan, ternyata harus disunting berat. Sang editor memutuskan untuk tidak menggunakan jasa penerjemah itu lagi.

Pelajaran: kepercayaan itu mahal.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Curhat Editor In House: Penerjemah Molor ”

  1. gravatar mery Reply
    December 15th, 2011

    suka endingnya… : kepercayaan itu mahal 😀
    setuju 🙂

    semoga aku ga pernah molor >.<

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 15th, 2011

      Aamiin… nanti mau bahas khusus soal molor-moloran ini juga:)

Leave a Reply

  • (not be published)