123rf.com

Apa yang bersentuhan dengan teks, khususnya buku, biasanya saling memengaruhi kendati kedua kegiatan ini tidak persis benar. Mari kita simak lebih dulu pentingnya kemampuan menulis menurut Steve Thompson, kontributor Yahoo! Network di situ:

First, you must be able to write in both languages. I don’t just mean that you can scribe a letter or understand what you read; you must be able to write well in both languages in order to succeed as a translator.

Dan tentu saja, kreativitasnya perlu dipagari. Dalam makalah Pak Hendarto Setiadi (sayang sekali saya lupa menaruh file-nya sehingga tidak bisa mengutip secara utuh), beliau menyampaikan bahwa menulis secara berlebihan atau menambah-nambah kalimat ketika menerjemahkan bukan tindakan tepat. Orang yang melakukan hal itu lebih cocok menjadi penulis, bukan penerjemah buku.

Contohnya kira-kira seperti ini:

Though there was someone now, just inside the ballroom doors.

(Sumber: It Happened One Season – Mary Balogh.)

Tapi memang ada seseorang di sana sekarang, seseorang yang bersembunyi tepat di balik pintu ruang dansa yang kokoh, besar, dan berukir-ukir.

Percaya atau tidak, saya pernah menemukan hasil terjemahan yang demikian:)

Kalau sembarang menulis alias sekadar mengartikan dengan benar tanpa menghiraukan keterbacaannya, tentu akan diterjemahkan begini:

Walau terdapat seseorang sekarang, persis di dalam pintu-pintu ruang dansa.

Cukup banyak penulis kenamaan dunia yang belajar menajamkan kemampuan menulis dengan menjadi penerjemah, seperti halnya sejumlah sastrawan senior kita. Menerjemahkan ‘memaksa’ kita membuka kamus dan menambah kosakata, selain meliuk-liukkan struktur apabila dipandang perlu.

Catatan: Menulis memiliki arti luas. Tidak berarti penerjemah wajib menerbitkan buku, dan sebaliknya, penulis pun tidak wajib menjadi penerjemah.

Bagaimana pengaruhnya pada penerjemah bersangkutan ketika menulis? Seorang kolega penerjemah yang juga penulis cerita anak mengaku terpapar gaya bahasa yang cenderung berpanjang-panjang dan relatif kurang lazim dalam struktur penulisan buku Indonesia. Misalnya (ini terkaan saya, bukan contoh dari beliau sendiri):

Karena sudah mengantuk – dan ini kelemahan terbesarku – di mana pun aku bisa terlelap.

Keterbiasaan dengan gaya kalimat terjemahan ini memungkinkan kita mengenali tulisan ‘berbau’ terjemahan saat membaca buku. Berikut beberapa gaya yang pernah saya temukan:

  • Sungguh ia ingin meraupnya dan merenggutnya dan meremukkannya dan mengempaskannya sejauh mungkin.
  • Memang luar biasa, orang itu.
  • Terkejut, adikku tak bisa berkata-kata lagi. (Yang ini sering sekali muncul di surat kabar, portal berita atau newsticker di TV).

Mau tak mau, ‘penularan’ gaya tersebut kadang menjalar saat kita berkomunikasi tertulis dan lisan sekalipun. Bisa saja saya berkata, “Dia sedang sibuk sekali dan aku menolak mengganggunya.” bukan “Dia sedang sibuk sekali dan aku tidak mau mengganggunya.”

Pada saya pribadi, setelah berkecimpung di penerjemahan dan penyuntingan karya terjemahan, gunting saya menjadi lebih tajam. Kecuali baru menggarap satu buku yang berciri khas gaya bahasa mendayu-dayu, saya mengalami kesulitan untuk menulis panjang. Untuk menulis novel misalnya, saya butuh waktu sangat lama. Menulis di blog pun bisa berjam-jam. Bukan berfokus pada cerita, terkadang perhatian saya lebih tersedot pada pengecekan repetisi dan upaya meringkas kalimat.

Entahlah, apakah ini terbilang positif atau negatif.

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

2 Responses to “ Dampak Aktivitas Menerjemahkan Pada Kepenulisan ”

  1. gravatar Anggun Reply
    December 13th, 2011

    Hwwaaa,,, teteh, ini sih dilema saya juga…
    Menohok!
    Makasih masukannya. Jadi penulis n penerjemah harus selalu mengasah “gunting” sendiri ya 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 13th, 2011

      Sama-sama, Anggun:)

Leave a Reply

  • (not be published)