Beberapa tahun lalu, saya sempat mengikuti seleksi menerjemahkan novel bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Mendebarkan memang, karena temanya sangat berat dan bukunya pun tebal sekali. Penyeleksinya adalah penutur asli dari Australia. Saya tampilkan nukilannya saja, semoga cukup memberi gambaran.

 

Menurut beliau, begini (beliau tidak tahu siapa penerjemahnya):

Whoever has done this translation has not a bad command of the English language, but needs to practice more. He/she is an enthusiast, and this is a great point. However, an enthusiasm without a discipline and “ketekunan” is not sufficient. U know what I mean?
I feel the translator under a proper guidance may grow and develop well, but that will take years.
Tentu saja saya tidak berani nekad mengerjakan keseluruhan buku. Pelajarannya, ternyata subjektivitas dan selera bahasa penutur asli pun berbeda-beda. Saya tidak menyebut terjemahan ini bagus, tapi berdasarkan pengalaman lain yang sejenis, pendapat dan penilaian bisa sangat beragam.
Kalau ditanya perasaan saya sewaktu dapat penilaian ini, saya mengutip jawaban duo narasumber Sarah Sechan suatu hari (lupa namanya), “Iya dong, dimasukkan ke hati.”:p

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.