Ketika bertemu dengan editor lini nonfiksi sebuah penerbitan tahun lalu, saya sempat mengusulkan agar diterbitkan kamus “yang sama sekali baru”. Artinya, kamus Inggris-Indonesia yang disusun sesuai kebutuhan zaman sebab yang banyak dipakai sekarang ini (tepatnya waktu itu) terasa kurang lengkap. Saya tidak perlu sebutkan penyusunnya, hanya saja digunakan oleh pelajar sekolah juga dan pernah saya lihat diasongkan di perempatan. Sekali waktu saya beli edisi terbarunya, berharap sudah direvisi dalam arti dilengkapi, tapi ternyata belum berubah sehingga saya harus googling untuk mencari kata lain. Atau menggunakan software kamus offline kendati masih Inggris-Inggris dan ada keterbatasannya pula. Malah rasanya sudah lama saya tidak menjenguk Oxford Advanced Genie yang diinstall ke laptop, lebih sering melirik The Sage.

Ini jelas tidak mudah. Editor baik hati tersebut pun mengatakan, mungkin harus digarap oleh peneliti atau profesor yang menekuni bidang perkamusan ini dan benar-benar punya waktu untuk mengerjakannya. Di sisi lain, tidak ada kamus yang seratus persen lengkap. Di samping kosakata terus mengalami perkembangan, bidang dan peristilahan pun beragam. Padahal referensi semacam ini tidak hanya dibutuhkan oleh penerjemah dan editor, tetapi juga praktisi bidang bersangkutan. Saya masih ingat sekitar 12 tahun silam, menolak membantu kakak mengerjakan tugas kantor yang dibawa pulang berupa penerjemahan kemiliteran karena asing dengan kosakatanya.

Terbayang, apabila ada kamus yang mendekati lengkap, katakanlah 90 persennya, akan sangat tebal dan pasti mahal. KBBI IV saja mengalami perubahan fisik dalam tempo yang relatif singkat. Awalnya relatif “tipis”, kertas ringan, belum lama ini saya lihat cetakan baru yang lebih “gembur” dan barangkali font-nya lebih besar-besar. Kendalanya tentu, pegal membuka kamus sangat tebal begitu.

Rata-rata ciri kamus adalah:

1. Meliputi cara membaca, meski tidak selalu

2. Dilengkapi contoh kalimat

3. Disertai keterangan jenis kata, kelas kata, dll

4. Kadang dibubuhi asal kata atau etimologi

5. Sebagian besar dicetak dengan indeks jari, yang bagi saya sangat memudahkan

Sebelum saya lanjutkan, perlu saya sampaikan, postingan ini tidak bermaksud membandingkan produk penerbit yang sudah barang tentu berlainan. Ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Justru saya ingin memperjelas, sependek pengetahuan saya, betapa beragamnya referensi yang ada di pasaran dan bisa saling melengkapi. Untuk itu, saya sengaja tidak menyebutkan nama penerbitnya.

Kamus Slang Amerika, yang sudah mencapai cetakan ke-6 pada tahun 2007, berdampingan dengan NTC’s Dictionary of American Slang and Colloquial Expressions (Richard A. Spears, Ph.D). Terus terang saja, saya masih sukar membedakan ungkapan sehari-hari yang begitu mirip idiom. Pasalnya di NTC’s Dictionary, ada sejumlah idiom menggunakan nama orang yang pernah saya temui di kamus online. Sebut saja John Hancock yang berarti “tanda tangan.” Istilah ini pun tercantum dalam Kamus Ungkapan Inggris Indonesia yang disusun Joseph J. Sullivan dan Hadi Podo.

Pada umumnya, kedua kamus slang ini sama-sama banyak memampang istilah “gaul” yang cenderung “kasar” dan mencakup sejumlah makian/serapah. Ada sebutan, kosakata menyangkut obat bius, minuman keras, hubungan intim, juga akronim, semisal “N.G” (no good). Sebagian pernah saya dengar ketika menonton film Hollywood. Tebersit rasa ingin tahu, adakah kamus slang Australia atau British?:D

Salah satu elemen yang nyaris tak ketinggalan adalah idiom. Semula saya menduga, kamus “umum” saja cukup. Toh, lebih membantu apabila berpegangan pada referensi yang lebih spesifik. Dari Kamus Idiom Edisi Lengkap susunan Tim Primapena, saya memperoleh beberapa yang cukup harfiah sehingga mudah diterka maknanya. Ada juga yang sering dijumpai dalam buku, semisal below one’s breath/under one’s breath.

Karena kamus itu terbitan 2004, penunjangnya ialah Kamus Ungkapan Inggris Indonesia yang sudah saya sebut di atas. Kamus ini tidak disusun secara alfabetis belaka, melainkan mirip indeks dan menurut kata tertentu yang digunakan berkali-kali (atau sekali saja) dalam idiom. Contohnya, dari kata free ada free and easy, free hand, dan free rein. Ada kalanya “bertimbal balik” seperti ketika mencari makna on the fritz, dirujuk ke daftar ON. Barangkali demi menghindari pengulangan sehingga tidak perlu tebal-tebal. Dalam ekabahasa Indonesia, Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia J.S. Badudu cukup berfaedah. Klasifikasinya pun menurut kata yang terkandung dalam ungkapan tertentu. Pasangannya saya pilih Kamus Peribahasa (Sarwono Pusposaputro). Celah yang belum terisi dalam kamus idiom bahasa Indonesia ini ialah isi yang disusun berdasarkan makna.

Masih ada Kamus Pintar Memilih Kata Bahasa Inggris (Mukh. Syamsuri). Di sini dipaparkan perbedaan dua kata yang terdengar mirip sehingga kerap keliru diartikan. Misalnya electrocute dan shock, inhibit dan prohibit. Penyusun menambahkan contoh kalimat supaya lebih jelas.

Kamus ekabahasa lain yang tak kalah membantu bagi saya adalah Collins Thesaurus A-Z Compact. Harganya relatif terjangkau untuk kamus “kecil” hardcover. Berguna ketika saya menerjemahkan ke bahasa Inggris, walau tidak sering. Buat saya, kamus saku bermanfaat juga kadang-kadang, seperti Kamus Saku Istilah Bahasa Asing (Rayner Hardjono). Toh setipis itu pun tidak bisa saya lahap dengan cepat. Kamus Kedokteran Dorland juga saya pakai versi sakunya, meski yang ringkas itu tidak muat di saku berhubung hardcover dan setebal 1210 halaman. Yang penting masih memadai, setelah berkonsultasi dengan saudara dan kenalan yang berlatar belakang medis.

Terkait penerjemahan Indonesia-Inggris, saya ibarat “pecah bisul” ketika akhirnya dapat memiliki Kamus Indonesia-Inggris Alan M. Stevens dan A.Ed.Schmidgall-Tellings. Dalam proses pencarian kamus Inggris-Indonesia susunan Peter Salim (hasil jungkir balik yang disemangati editor in house di atas dan rekan satu ini), saya menemukan The Contemporary Indonesian-English Dictionary yang gemuk. Menyenangkan sebab hurufnya besar-besar, disertai gambar di beberapa bagian, dan “menyegarkan” dari segi kekayaan kosakata. Diksi sang penyusun tidak selalu tercantum di KBBI, bahkan banyak juga yang serapan bahasa daerah. Pasangan kamus ini terbilang tepat untuk saya.

Bagaimana dengan kamus Prancis? Inilah salah satu yang saya harapkan ada edisi revisinya. Toh, saya masih merujuk Kamus Perancis Indonesia (memang ditulisnya begitu) Winarsih Arifin & Farida Soemargono beserta Indonesia-Prancis-nya Pierre Labrousse yang kadang dicek ulang dengan bantuan Larousse Compact. Membeli kamus Prancis-Inggris masih dalam pertimbangan, selain relatif sulit menemukannya.

Belakangan, saya suka dan merasa lebih mengerti jika membaca kamus bergambar. Itulah yang mendorong saya membeli Oxford Picture Dictionary Second Edition baru-baru ini. Bicara kamus Oxford, meski penyusun yang satu ini adalah Jayme Adelson-Goldstein dan Norma Shapiro, ingatan saya tak bisa beranjak dari Professor and the Madman tuturan Simon Winchester. Kerja keras mereka bukan main:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)