goodreads.com

Judul: Dari Katabelece Sampai Kakus, Kumpulan Kolom Bahasa Kompas

Penulis: Harimurti Kridalaksana dkk

Editor: Nuradji

Penerbit: Penerbit Buku Kompas, 2003

Tebal: 234 halaman

[rating=4]

Menyangkut buku yang membahas seluk-beluk bahasa, kerelatiftipisan halamannya tidak menjadikan mudah dan cepat dibaca. Justru setiap artikel yang dihimpun dari Rubrik Bahasa Kompas tersebut perlu dicermati agar ilmunya tidak sekadar numpang lewat alias apal cangkem.

Dan bukan rahasia lagi, bahwa Kompas adalah acuan berbahasa [tulis] yang paling direkomendasikan. Sementara itu, banyak artikel dalam buku ini mengukuhkan bahwa tokoh masyarakat, pejabat dan selebritas berperan besar dalam pengikisan kaidah bahasa serta kemelencengan pemakaian diksi, penempatan frasa, dan sebangsanya.

Yang menjadikan buku ini sangat menarik lagi berguna adalah kasus per kasus selaku contoh. Ada penulis yang masih bandel menggunakan kata penghubung, apa pun fungsinya, di awal kalimat. Sebut saja ‘padahal’ dan ‘sedangkan’. Masih ada lagi sampel yang tidak selayaknya meski masih juga digunakan banyak kalangan, yakni ‘di mana’ pada kalimat non interogatif. Penulis artikel dengan teliti menyajikan pemecahannya, termasuk pada yang paling rumit dan kerap membuat puyeng pun, yakni dengan membagi dua kalimat [karena ketidaktepatan biasanya bermusabab kalimat terlalu panjang] dan mengganti ‘di mana’ dengan kata atau frasa yang sama sekali lain, namun lebih pas dan tidak mengakibatkan keambiguan.

Berikut ini beberapa kekeliruan tersebut:

1. ‘Etnis’ adalah kata sifat, bukan kata benda. Maka tidak boleh dibiarkan berdiri sendiri atau berdampingan dengan kata benda lainnya.

2. “Presiden, Wakil Presiden, dan para menteri lainnya..” menimbulkan konotasi bahwa Presiden dan Wakil Presiden adalah menteri gara-gara kata ‘lainnya’. Ini perlu dihindari sebab pemahaman bahasa masyarakat berlainan kedalamannya dan tingkat kemungkinan salah tafsir teramat tinggi.

3. ‘Mengejar ketinggalan’ itu salah besar, yang benar ‘mengejar kemajuan’.

4. ‘Mengentaskan kemiskinan’ juga keliru, yang benar ‘mengentaskan orang miskin’.

5. ‘Antara’ digunakan untuk dua hal yang sepadan, maka yang benar adalah ‘antara..dan..’ bukan ‘antara..dengan..’

6. ‘Akut’ berarti ‘dadakan’, sedangkan ‘parah’ yang tepat diungkapkan dengan ‘kronis’.

7. Tidak ada kata yang benar-benar bersinonim.

Artikel berbau teknis linguistik dan politik bisa jadi menjemukan pembaca, namun tak pelak di sana tergambar gamblang kekeliruan-kekeliruan yang karena seringnya terjadi, dianggap benar. Misalnya pemakaian istilah ‘gate’ pada ‘Buloggate’. Tak kalah memikat untuk diketahui, mengenai peran juru bicara yang kompeten dalam mencairkan komunikasi sekaligus menghindari salah interpretasi. Itu ditandaskan dengan kalimat berikut:

Singkatnya, juru bicara ibarat tape-recorder hidup yang cuma perlu jernih suaranya, tetapi tidak perlu masyhur mereknya.

[hal. 206]

Faktor penyebab bintangnya tidak utuh berjumlah lima adalah pengulangan bahasan, salah satunya ‘mengentaskan’ tadi. Namun kiranya itu memang perlu guna menghindari kekeliruan yang sudah begitu mengakar.

Salah satu penulis yang amat menyemarakkan buku ini dengan kelincahan paparannya adalah Handrawan Nadesul. Dokter sekaligus penulis kesehatan, yang pernah ditampilkan profil sekaligus kiat menulisnya di majalah Matabaca lama, ini menguraikan betapa repotnya menjalin komunikasi yang terang antara dokter dan pasien karena minim diksi dan ungkapan bahasa Indonesia, setidaknya dibandingkan dengan bahasa Jawa.

Buat menampung istilah medis, bahasa Indonesia masih tergolong kurus, amatiran, dan sedikit dungu. Belum lagi untuk tugas-tugas yang lebih protokoler, seperti memerikan dengan jernih sebulat keluhan yang pasien rasa dan keluhkan.

Bahasa Indonesia terlalu papa buat mengungkapkan secara persis ragam rasa nyeri, sakit kepala, mulas perut, atau sakit pinggang. Padahal, ragam dan kaliberasi rasa nyeri, rasa kebas, rasa mulas, rasa tidak enak badan, yang ingin dengan bulat pasien ungkapkan, begitu tipis perbedaan maupun nuansa cita rasanya.

[hal. 196]

Kita akan dibuat terpingkal-pingkal oleh kalimat ihwal kasus dokter yang entah mengapa gemar sekali bertanya, “Sakit apa?” kepada pasien. Di bawah ini pemikiran Handrawan Nadesul:

Bukankah kalau pasien sudah tahu penyakitnya buat apa mencari dokter. Maka, jangan salahkan pasien kalau ada pasien yang iseng saja menjawab, “Perut pusing dan kepala mulas, Dok!”

[hal. 199]

Satu hal lagi yang menjadikan buku ini menawan, coretan editornya di muka,

Buku ini kupersembahkan untuk almarhum bapakku, yang masih diutangi ijazah skripsiku.

Buku yang sangat bagus untuk rujukan penyunting bahasa, pemakai bahasa yang peduli akan tata bahasa yang baik.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)