pic0009 pic0008

Saya baca buku pertamanya sudah cukup lama, lupa jalan ceritanya. Alhamdulillah Mbak Dee bersedia melepaskan koleksinya untuk saya beli. Lalu saya buat catatan seperti gambar di atas.

Pengalaman saya menyunting fantasi terjemahan memang masih terbatas, tapi saya sangat menikmati karya Divakaruni ini. Bagian-bagian sihirnya, nyanyiannya, dan tentu saja nuansa Asia (baca: India) yang kental.

Sakit itu suatu hal yang bisa dimanfaatkan musuhmu untuk membuat kalian menyerah pada kehendak mereka atau memaksamu menentukan pilihan yang salah. Bila rasa sakit menguasai diri kita, kejernihan mental hilang, dan kita akan tidak mampu menggunakan bahkan keahlian sihir paling sederhana sekalipun.

Seorang Penyembuh harus mampu menyesuaikan diri dengan segala macam keadaan dengan sama mudahnya, maka akan ada hari-hari kita hanya makan nasi dan dal, dan hari-hari lain ketika tidak ada makanan yang dihidangkan sehingga kita harus mencari di ladang dan mencukupkan diri dengan apa pun yang bisa kita dapatkan.

mirror

Karakter yang paling saya sukai justru Zafar Miah, juru masak istana. Dia membuat saya tidak sempat membayangkan aktor India mana yang cocok memerankan tokoh lain, sebab saya asyik belajar menghadapi karakter sulit dalam pekerjaannya. Dari dialog berikut ini:

Zafar berdecak dengan sikap menenteramkan. “Bangsawan-bangsawan ini, mereka tidak pernah berpikir, itulah masalahnya. Mereka hanya memerintah, dan mengharapkan kita memberi solusi! Kemarin siang Shahzada tiba-tiba meminta kulfi untuk semua temannya. Apa dia sejenak saja mempertimbangkan bahwa untuk membuat begitu banyak kulfi, aku butuh segerobak es batu, belum lagi setengah hari untuk merebus, mendinginkan, menambahkan rasa manis, dan membekukan susu?”

“Lalu apa yang kau lakukan?” tanya Latif, kesulitan-kesulitannya sendiri terlupakan sesaat.

“Aku pergi ke tempat tinggal Nawab untuk menjelaskan hal ini kepada Shahzada. Tentu saja, dia tidak mau mendengarkan. Dia mengentakkan kaki, menjerit, dan melemparkan hookah kepadaku. Untung, bidikannya kurang tepat sehingga tidak berbahaya bagiku. Untung juga, Perdana Menteri, yang datang menemui Nawab untuk membahas sesuatu, mendengarnya marah-marah dan menegur Shahzada dengan keras sekali, mengatakan ini bukan sikap seorang calon raja. Dan dia memang benar! Kalau saja orangtuanya sendiri lebih sering mendisiplinkan Shahzada, akan baik baginya. Tetapi karena dia putra mereka satu-satunya dan calon ahli waris, dia sudah dimanja sejak kelahirannya, dan kita pelayan-pelayan yang harus menanggung akibatnya! Bagaimanapun juga, Haider Ali memintaku mengirim jus semangka dingin kepada Shahzada, untuk menenangkan suasana hatinya. Dan itulah yang kulakukan! Aku masih punya sisa, kalau kau mau mencicipi segelas.”

Selain itu, catatan khusus: adegan pertempurannya seru banget!:))


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)