Cukup lama saya baru menyadari bahwa gaya mengelola waktu bagi tiap orang berbeda. Untuk saya sendiri pun, sangat mungkin berubah-ubah tergantung situasi. Satu saja benang merahnya: saya konsisten panik. Saya sering iri pada suami karena ketenangannya. Kata sepupu, itu elmu luhung yang butuh waktu lama agar bisa diterapkan. Yah, anggap saja belajar kungfu.

Waktu tanya suami, katanya begini,

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style03″] Oh, nggak keliatan ya kalau kepikiran? Bagus deh. [/sws_blockquote_endquote]

Berarti dia jago akting. Yah, namanya juga mantan pemain teater. Kali lain, ia menjawab lebih serius,

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style04″]Panik itu buang-buang waktu. Supaya nggak panik, ya jangan panik. Kerjakan saja. Dan harus yakin, pasti selesai. [/sws_blockquote_endquote]

Saya teringat kata Nui, [sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style05″]Kalau masih sempat panik, berarti masih punya waktu. [/sws_blockquote_endquote]

Perlahan-lahan saya meminggirkan kalender dari meja di kamar. Menganggapnya tak kasatmata memang butuh usaha keras, walau bukan berarti saya lupa ada pekerjaan dan harus selesai tanggal sekian bulan sekian. Itulah karunia besar ingatan. Kalau lupa hari sih, susah biasa dan banyak yang mengalami.

Nikmat sekali tidur tanpa oleh-oleh pikiran. Besoknya, saya menetapkan langkah “kecil” saja. Niat bekerja. Ibarat penulis yang mendisiplinkan diri mencicil satu kalimat, satu alinea, atau satu halaman, yang penting meluangkan waktu untuk itu. Ajaib, saya jarang misuh-misuh lagi kalau ada distraksi, gangguan berbagai bentuk. Sesekali memang masih, jika sedang berpikir keras misalnya. Saya juga belajar tidak menghitung halaman yang biasanya menimbulkan stres baru, “Aduh, masih banyak!” atau “Ih, baru segini… kapan kelarnya ya?”

Dalam banyak kasus yang saya alami, alon-alon waton keturon kelakon itu sangat benar. Alhamdulillah, tanpa banyak berhitung, pekerjaan selesai. Tepat waktu memang keharusan ideal, sedangkan bisa lebih awal adalah bonusnya.

Lega sekali jadinya, walau mungkin sekali ini hanya dapat dilaksanakan sekali-sekali. Namun yang penting buat saya, tidak gelisahnya itu. Bagaimanapun bukan kita yang memiliki waktu, seperti kata Bon Jovi di lagunya ini, “There are wars that can’t be won.”

 

Keep the faith, akhirnya sampai juga di garis finis ^_^


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)