Saya sempat berpikir, jangan-jangan rumah ini perlu peta. Tidak besar, tapi barangnya banyak. Sebagai contoh, gunting ada beberapa. Gunting kertas, gunting dapur, gunting kecil, gunting kuku pun dua buah (yang satu beli hanya karena suka bentuknya, nggak banget bukan?). Mug bekas untuk wadah barang/alat tulis masing-masing jelas ada dua juga, dan sering kali saya menjajah wadah Mas Agus untuk meletakkan barang sendiri. Meja kerja yang cukup besar masih ditumpuki barang dan Mas Agus kerap kebagian ujungnya saja.

Dengan kondisi begini, kami sama-sama lebih suka membereskan sendiri (meski entah kapan dan sekenanya). Biasanya kalau ada saudara datang membawa anak masih kecil, kami sibuk memindahkan benda-benda yang sekiranya berbahaya. Seberantakan apa pun, tidak boleh ada yang dibuang tanpa izin. Itu berlaku untuk kami berdua juga. Kalau saya yang membenahi ruangan atau meja, risikonya harus siap ditanya, “Ini di mana?” “Itu sebelah mana?” atau “Kamu lihat map yang warna ini, nggak?” Demikian pula sebaliknya. Pernah saya beberes ala Misae Nohara, mengonggok barang di satu tempat sehingga selesai dengan cepat. Tapi dengan catatan bukan benda-benda yang sering dibutuhkan. Biasanya semua itu tidak dikembalikan ke posisi awal.

Puncaknya kemarin, gara-gara ponsel tertimbun dan terselip, satu nomor cadangan hangus tak ketahuan. Untungnya sudah tidak berpulsa, memang. Tak ayal saya teringat meja para kakak sesama pekerja di rumah yang tertata rapi. Juga arsip di rumah sahabat pekerja lepas yang diberi label dalam rak bersusun. Tulisannya pun rapi dan terbaca. Sebagai info: sahabat ini laki-laki. Wajar rasanya kalau saya malu sendiri.

Capek dan bosan juga tiap hari mencari kertas, ini-itu sebelum pergi atau ada urusan lain. Saya sudah menempuh upaya dengan bantuan Mbak Nita, kantong kain hasil jahitan beliau yang diberi label. Ada pengaruhnya selama saya tidak lupa menaruh kantong-kantong itu. Whiteboard besar dipasang di dinding belakang meja saya ini, untuk mencatat hal-hal yang penting. Ternyata yang penting itu banyak:p Di whiteboard kecil dekat kulkas saja, sudah tertera tanggal ganti oli, tanggal beli gas, nomor HP Pak RT, dan password email.

Niat membeli rak seperti sahabat di atas masih kami timbang-timbang sebab tidak ada tempat lagi. Setelah direnungkan, penyebab sulit menemukan barang adalah tidak meletakkannya di tempat semula. Berantakan pun begitu. Misalnya ketika saya menerima surat dari penerbit, kerap saya geletakkan dengan amplopnya beberapa hari. Tidak langsung dimasukkan ke map khusus di rak atas.

Akhirnya saya putuskan untuk sementara, beberes tapi tidak kelewat rapi dalam arti sukar menemukan barang. Benda-benda yang sering dipakai harus mudah dijangkau dan diletakkan di satu tempat yang terlihat. Kalau sampai dipindahkan, harus ada pemberitahuan. Kalau perlu ditulis di whiteboard tadi. Definisi rapi buat kami adalah mudah menemukan barang, karena seperti kata Dhyan, tanpa sadar kami menaruh barang selalu di tempat yang sama.

Sekali-sekali rapi memang enak. Tapi di sisi lain, rapi melulu berarti kami punya banyak waktu. Banyak waktu berarti tidak ada pekerjaan. Seadanya sajalah:))


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)