Pekerjaan rumah dan tugas kuliah berakhir setelah tamat sekolah, namun pekerjaan rumah tangga (mari bayangkan rumah dan tangga panjang) hilang satu tumbuh seribu. Saya tidak hendak menepuk dada dan “menganulir” ucapan orang bahwa menjadi keluarga mini (baca: hanya berdua) berarti segalanya lebih mudah. Apalagi saya dan Mas Agus sepakat untuk menjadikan rumah sebagai tempat berekspresi kami yang “bebas”. Guna melakukan tugas-tugas rumah, tak jarang kami mengandalkan mood juga. Terutama bila sama-sama maraton deadline.

Berikut beberapa kebiasaan saya, ibu rumah tangga kedul (pemalas):

  • Tanpa bermaksud menyalahkan cuaca, jemuran baru kering tiga hari bikin agak “gemas” juga. Stamina kami, kondisi tempat cuci yang becek dan bocor tepat di atasnya, serta hawa yang kerap dingin tidak memungkinkan kami untuk nekat mencuci malam-malam. Lingkungan kami tergolong aman, namun menjemur malam-malam mengingat posisinya di halaman cukup riskan. Maka kami menjemur sebagian cucian yang belum kering di ruang tamu. Sengaja dipasang beberapa paku di situ, biasanya untuk menjemur handuk karena lebih panas di siang hari. Kemudian cucian lain yang keringnya “meragukan” (kami sebut “eumeul-eumeul”) dimasukkan rigen dan ditaruh di kursi panjang di sana juga. Setelah kering benar, barulah dibawa ke belakang agar tidak bau.
  • Mas Agus jauh lebih jago memasak, itu sudah terbukti. Namun saya menghormati suatu kewajaran: bosan atau malas sekali-sekali. Apalagi bila sedang dikejar tenggat, lebih baik membeli masakan matang. Jika pedagang masakan tidak berjualan, kami membeli sarden kalengan, telur asin, gorengan, lotek, bakso, atau menggoreng kornet. Alternatif lain, sup instan. Sebut saya superpemalas, tidak higienis, atau apa pun, namun ini menghemat waktu dan tenaga. Saya menyimpan bawang putih yang sudah ditumbuk dalam kemasan, serta beberapa bumbu lainnya. Tidak perlu berjejalan ke warung sehingga pagi bisa mengerjakan hal lain.
  • Nyupir alias nyuci piring kadang tidak bisa ditunda. Tapi pernah juga kami tumpuk sampai dua hari, terutama bila harus bepergian mendadak. Kami bukan tipe pasutri yang kalau mau ke luar rumah harus beberes dulu, begitu juga kalau ada tamu. Agar tidak “menyesakkan”, piring kotor dan teman-temannya ditumpuk rapi. Ini senada dengan baju kotor. Diletakkan sedemikian rupa sehingga wadahnya yang sangat besar (ember penampung lungsuran ibu saya) muat banyak dan… tahu-tahu luber:p
  • Mencicil bisa membantu. Saya tidak mahir multitasking karena gampang siwer. Lihat situasinya saja, apakah bisa menggiling cucian sembari melakukan hal lain kemudian membilasnya nanti-nanti. Karena panen baju kotor sekaligus bisa memakan seharian bahkan lebih, dan akhirnya jadi capek banget, saya pilih mencuci yang penting-penting saja. Lihat di lemari dan wadah seterikaan, apa yang habis.
  • Dulu, saya senang sekali membaca sebuah majalah wanita yang menyisipkan tips-tips urusan rumah tangga. Salah satu yang paling saya ingat, agar nonton TV tidak terasa “buang waktu”, bisa disambi membuang sampah, memotong sayuran, atau mencicil pekerjaan. Saya beruntung punya teman-teman chat WA yang secara tidak langsung “mengingatkan kenyataan”. Sering kangen memasak malam-malam atau nyuci sore seperti yang dicontohkan seorang saudara agar tidak terbelenggu jadwal harian. Belakangan, malam hari saya bisa nyambi membalik jemuran yang sudah kering dan meletakkan wadahnya di kamar untuk diseterika besok pagi. Mengapa di kamar? Kami tidak punya meja seterika khusus dan saya lebih suka mengerjakannya di tempat tidur. Kasur jadi hangat, bisa sambil duduk (lesehan pegal), dan dekat ke lemari pakaian.
  • Untuk menghemat energi juga, saya kerap menyeterika baju rumah sambil lalu saja.
  • Kalau makan di luar, diusahakan beli lauk untuk dimakan di rumah.
  • Yang satu ini bawaan anak kos, kombinasi kebiasaan di keluarga. Mengingat tidak ada tempat yang representatif, saya jarang memindahkan sayur atau masakan lain dari panci dan wajan ke mangkuk atau wadah sejenisnya. Kecuali masakan itu tinggal sedikit dan kompor mau dipakai. Ambil langsung dari wajan, pas menghabiskan ya langsung juga seperti foto di atas. Kalau sedang pelit tenaga banget, lauk kering yang dibeli tetap dalam plastiknya. Piring kotor semakin sedikit.

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)