Beberes itu termasuk olahraga, menurut saya, menye

… sebelum resmi terbit.

Dalam etika kerja penerjemah, sesungguhnya buku genre lain pun dianjurkan untuk dikonfidensialkan dahulu, kecuali penerbit sangat longgar dan memiliki alasan prapromosi. Toh pada penerbit seperti ini pun, pernah terjadi perubahan rencana mendadak. Buku-buku yang dicanangkan hendak diterjemahkannya batal karena satu dan lain hal.

Sedari tahun 80-an atau mungkin sebelumnya, buku klasik adalah ceruk yang menarik untuk dilirik. Dahulu, beberapa penerbit terkemuka memproduksi sadurannya yang digarap rata-rata oleh penerjemah yang sekaligus penulis/sastrawan kawakan. Sebagian buku ini belum diterjemahkan utuh, sependek yang saya ketahui, karena berbagai alasan. Antara lain topik yang terbilang berat sehingga memilih penerjemah yang mengerjakannya pun harus ekstra hati-hati.

Ada misi lain di samping komersial yakni pengenalan (jika tak hendak disebut edukatif) masyarakat pembaca terhadap buku-buku klasik yang bermutu dan umumnya tak lekang zaman. Klasik terdiri dari sasaran pembaca (berdasarkan cerita dan usia karakter sentralnya) yang beragam pula. Ada remaja, anak-anak, dewasa, namun kebanyakan bisa dikonsumsi segala kalangan umur. Ada yang berbau petualangan, sangat wanita dan kental romansa, bersifat maskulin, dan banyak lagi.

Wajar saja apabila animo pembaca yang cukup besar, terbukti dari masih derasnya penerbitan terjemahan klasik ini dalam aneka bentuk (termasuk adaptasi versi komik), membuat penerbit ‘berebut’. Aspek keterkenalan suatu karya, biasanya karena sudah diangkat ke layar perak, jadi pertimbangan penting. Ada lagi faktor popularitas pengarang. Jika pengarang klasik menghasilkan karya cukup banyak, bisa dipastikan penerbit memilah-milah mana yang perlu diterjemahkan segera. Segera dalam arti amat relatif dan riskan.

Mengapa riskan? Pertama, karena hak cipta buku klasik sudah bebas, pembaca dapat memperolehnya di internet dengan sangat mudah. Toh masih ada ekspektasi dan peluang pada pembaca-pembaca yang mengaku menunggu dan ingin menikmati versi bahasa Indonesianya. Kedua, lantaran persaingan ketat tadi, diupayakan memproses sesegera mungkin tapi toh hasil terjemahan harus ditelisik ekstra cermat. Padahal bukan rahasia lagi bahwa bahasa buku klasik rata-rata rumit, pelik, dan kadang membutuhkan taktik khusus untuk meluweskannya.

Kembali pada judul tulisan ini, alangkah baiknya penerjemah (dan editor lepas) tenang-tenang saja saat menggarap genre klasik. Kita semua tahu antusiasme pembaca di satu sisi menggembirakan dan di sisi lain menegangkan sebab sebentar-sebentar bertanya, “Kapan terbitnya?” seperti yang saya baca di sebuah milis penerbit. Ditambah lagi, peristiwa yang beberapa kali terjadi yaitu satu buku diterjemahkan dan diterbitkan nyaris serentak oleh lebih dari satu penerbit. Pilihan memang diserahkan kepada pembaca, kendati tak pelak saya sempat mendapati perbandingan yang, meminjam istilah seorang teman, ibarat menilai benang di toko yang bersebelahan.

Freelancer memang bukan karyawan. Namun menyimpan kejutan (jika bisa dipandang dari segi ini) secara positif tak pernah ada ruginya. Bila ditanya, cukup mengatakan, “Lagi garap klasik.” Titik. Sebab tatkala buku persis sama lahir nyaris berbarengan, bukan saja penerjemah yang deg-degan dibandingkan dengan penerjemah lain, editor dan anggota tim yang menangani penerbitannya juga.

Catatan: Tulisan ini bersumber dari pengalaman pribadi.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)