Jika menyimak penjelasan ringkas editor, saya jadi berpikir bahwa Roro Mendut pun termasuk historical romance. Ya begitulah, gambarannya saya peroleh dari hobi istri nonton film-film bergenre ini. Misalnya Tudors yang dia tonton sampai puyeng, The Other Boleyn Girl (susah banget nyebutnya), Elizabeth (yang bikin dia tidur karena panjang sekali), dan Marie Antoinette.

Intinya, genre ini adalah salah satu kegemaran istri. Mungkin karena bernapas klasik. Bagusnya, di buku Mary Balogh ini deskripsinya relatif tidak berhamburan. Lebih banyak dialog yang terasa tantangannya karena justru kalimat-kalimat itulah yang membangun kesan akan karakter seseorang. Khususnya di sini, perwatakan Vanessa Huxtable.

Iya, jujur begitu tahu namanya, saya teringat film seri TVRI zaman baheula yang sempat diputar ulang di TV lokal Bandung beberapa waktu lalu. Anaknya juga ada yang bernama Vanessa.

Mau bilang apa lagi, ini genre yang benar-benar ‘asing’. Istri yang membantu menyusun daftar tokoh dan ditulis di post-it, meski tak banyak yang saya ingat selain Vanessa dan Elliott. Menyebut gelarnya saja masih terbalik-terbalik sampai akhir. Salut pada sang pengarang yang benar-benar sudah tidak muda lagi dan bisa konsisten menyusun pola cerita serta karakter yang begitu banyak (bahkan nyaris mirip) dalam buku ini.

Berikut beberapa kutipan bagus:

Ada orang yang sepertinya terlahir bahagia.

Kalau seseorang sudah mendapatkan bulan dan bintang, apakah ia boleh bersikap serakah dan meminta matahari?

Mungkin rumah bukan berarti tempat tetapi di mana seseorang merasa benar. Mungkin kini rumah adalah di mana pun Elliott dan ia berada.

 

At Last Comes Love

Pernikahan ternyata begitu penting, tidak hanya bagi kaum wanita, namun juga pria di kalangan bangsawan.

Meg, sulung empat bersaudara Huxtable, merupakan potret yang cukup familier. Ia banyak berkorban untuk adik-adiknya, menepati janji pada almarhum ayah mereka untuk membesarkan ketiga adik tersebut. Toh, sebagai manusia biasa, Meg berhak memperoleh kebahagiaan. Usia tiga puluh tahun membuat pilihannya tidak banyak, bahkan dipandang “kritis” di masa itu. Nilai tambahnya hanyalah status terhormat sebagai kakak Earl Merton dan memiliki kecantikan yang istimewa.

Uniknya, Mary Balogh berhasil menggali alasan lebih spesifik mengapa Meg harus menikah. Di sini disajikan betapa jalan meraih kebahagiaan dalam perkawinan itu sungguh berliku, memperoleh jodoh yang tepat dari segala segi, sekaligus sesuatu yang tampaknya menjadi penekanan Mary Balogh, bahwa siapa pun orangnya, apa pun kesalahannya di masa lalu, layak mendapat kesempatan kedua.

Seperti Vanessa, yang paling pertama menikah di First Comes Marriage, karakter Meg relatif tidak biasa. Ia tegas dan matang. Jadi siapakah laki-laki yang cocok untuk mendampingi wanita sedewasa Meg?

Seperti yang sudah-sudah, banyak nasihat tentang karakter manusia, pergaulan, hubungan cinta, bahkan yang berulang kali, menyangkut gosip yang dengan sendirinya akan memudar jika tidak diperpanjang, disisipkan dalam novel ini. Penyuntingannya cukup “mendebarkan” dan perlu taktik khusus karena menjelang akhir, tiba bulan Ramadan. Bagian-bagian tertentu tetap dibaca dengan “mematikan tombol rasa”. Rentang waktunya agak lama karena saya sakit sehingga terpaksa ditunda beberapa hari.

Yang menambah seru, sudah ada pembaca yang menanyakan dan tampak meminati seri ini sehingga saya bertambah semangat menyelesaikan penyuntingannya.

 

Penyuntingan Then Comes Seduction

 

gramediapustakautama.com

Dilihat dari judulnya saja, sudah tertebak bahwa nuansa novel ini lumayan berbeda dengan buku sebelumnya. Kali ini yang menjadi inti cerita adalah Katherine Huxtable, adik Vanessa persis. Di sini ditunjukkan bahwa pernikahan dan cinta bisa berlangsung karena banyak sebab. Romansanya terasa lebih kental ketimbang First Comes Marriage.

I can be hurt, she said, only by people I respect.

Love did not have to make sense. It did not have to be worthy. It did not have to be earned. It did not have to woo. It just simply was.

But if one had everything one could ever need or want, what was left to dream of?

Could we ever be happy if we did not at least occasionally experience misery?

Entah sudah menjadi kebiasaan penulis seri, buku keduanya lebih tebal daripada yang pertama. Pelajaran yang saya ambil, apa pun genre bukunya, menggarap seri membutuhkan napas panjang.

Kendala penyuntingan bisa dikatakan tidak ada, terjemahannya baik sekali dan lebur dengan gaya historical romance. Hanya saja sesuai panduan editor penanggung jawab, saya harus lebih saksama memperhatikan ‘nya’ agar tidak terlalu banyak, memvariasikan padanan, dan mengamati kata ganti orang ketiga tunggal. Kapan memakai ‘ia’ dan ‘dia’, baru saya pahami setelah membaca masukan penyuntingan novel yang ini.

 

Penyuntingan Seducing An Angel

 

 

seducing an angel

 

Rasanya belum lama saya merampungkan editan buku kedua, sedangkan buku ketiga kabarnya masih diterjemahkan. Sempat terpikir akan diberi naskah lain sambil menunggu, namun ternyata buku keempat seri Huxtable ini telah rampung dialihbahasakan. Suatu pengalaman baru, rupanya dalam penerbitan seri kali ini boleh “dilompat”. Memang setelah dibaca keseluruhan, tidak terlalu “bersambung” sehingga dapat dibaca terpisah.

Penyebabnya, tentu saja, penulis rajin membocorkan masa lalu beberapa karakter utama alias flashback. Tapi tidak semudah itu bagi editornya. Saya perlu menyusun daftar tokoh, apalagi yang dulu-dulu sudah dibuang (ini pelajaran penting agar tidak main copot saja sebelum serinya tuntas).

Sorotan Seducing an Angel, atau tepatnya orang yang disebut “malaikat” adalah Stephen Huxtable alias Earl of Merton. Ia sudah memasuki usia menikah, 25 tahun. Di sini ditunjukkan apakah hasil didikan kakak-kakaknya, terutama Meg, berhasil. Dan wanita seperti apa yang memikat hati Stephen hingga ia mengakhiri masa lajangnya.

There is today, and today is all that matters

With so many books waiting to be read, I often do not know where to start and so do not start at all

Happiness is more fleeting, joy more enduring

I cannot live my life according to what my peers expect of me. I must live it as I see fit

Sometimes, laziness is a thoroughly enjoyable luxury

But sometimes work can also be pleasure, you know

Think of those who have been kind to you today. Forget those who have not

Menurut saya, ceritanya cukup menyentuh, adegan mesranya relatif lebih sedikit, dan ada pesan tegas mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Terutama perlakuan suami kepada istri.

Penyuntingan A Secret Affair

 

 

Sewaktu buku ini terbit bulan lalu, Mas Agus sendiri lupa bahwa masih ada buku terakhir seri Huxtable Mary Balogh yang belum dilansir. Begitulah agaknya nasib Constantine Huxtable, sepupu Vanessa bersaudara, yang tersisih sedari lahir. Supaya adil, sang pengarang menulis kisah Constantine agar memperoleh kebahagiaan seperti para sepupunya.

Omong-omong, kalau sebut nama Constantine, Mas Agus pasti ingat film Keanu Reeves:p

a secret affair

Sebelum buku terbit, Mas Agus sudah menerima koreksi editan dari hasil proof editor in charge. Saat itulah kami baru sadar bahwa novel historical romance ini lumayan tebal. Sekadar informasi, memang begitulah proses cek berlapis. Setelah diedit, proof, kemudian dibaca ulang.

Syukurlah penerjemahnya sudah kenal duluan, jadi komunikasinya lebih mudah:)

Kisah Hannah Reid, duchess yang menjalin kasih dengan Constantine, ini hampir senada dengan Lord Merton (Stephen Huxtable) ketika menemukan pasangannya dulu. Bedanya, perkawinan Hannah dengan almarhum suaminya yang jauh lebih tua sangat bahagia. Sang duke pun meninggal secara normal. Dia mengajari istrinya banyak hal untuk bekal hidup, seperti :

Seseorang tidak boleh terlihat terlalu ingin — atau ingin sekali, malah — ketika mengharapkan sesuatu.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)