http://www.amartapura.com/view_book.php?id=08052001&bookid=16920

Penulis: Yoko Matsumoto & Jiro Takagawa

Penerjemah: Indrati

Penerbit: Elex Media Komputindo, 1993

Tebal: 201 halaman

Yang satu ini memuat daftar isi, tapi baru belakangan saya sadari bahwa buku tersebut terdiri atas tiga cerita.

Dalam Door House, masih ada “stereotipe” karakter tetangga yang penyendiri dan mencurigakan karena jarang keluar rumah. Apa boleh buat, itu sudah melekat di masyarakat. Belakangan ini, sejumlah pelaku tindak kriminal pun terendus bersifat introvert. Namun bila sering menerima paket, perangai itu sebaiknya tidak dipertahankan karena merepotkan tetangga. Kira-kira demikian pesan cerita pertama tersebut.

Mungkin karena gambarnya hitam-putih, saya membaca masih siang, atau otak sudah otomatis memblokir rasa takut, kilasan-kilasan penampakan tidak membuat saya mundur. Paling bergidik sedikit lalu buru-buru membuka halaman lagi:p. Cerita ini juga melatih kepekaan penyidikan, mungkinkah orang yang terlihat ceria tiba-tiba melarikan diri? Apalagi dia masih memakai piama.

Yang membuat saya benar-benar terkesan:

Spoiler Inside SelectShow
Sepertinya salah satu khayalan terliar saya semasa kecil menjadi kenyataan. Jempolan:))

Dalam Cursed Doll, Rika genap berusia enam belas tahun tatkala memperoleh hadiah boneka voodoo dari pengirim misterius. Kalau pernah mengalami yang mirip, Anda tentu akan menyimak cerita ini lebih serius. Pikiran yang rapuh dan mudah goyah menjadi titik kelemahan seorang gadis, apalagi dia tengah kasmaran.

Rika kesal karena ternyata pria yang disukainya akrab dengan gadis lain. Dia tergoda mencoba-coba boneka itu, meski sudah dinasihati pelayannya, Tina. Kemudian hadir seorang pria lain yang mengira Rika hendak bunuh diri dan meyakinkannya bahwa voodoo tidak sekuat yang dia kira. Pengungkapan di klimaks cerita juga pantas diacungi jempol.

Dalam Red Shadow, suasana seramnya masih pekat meski variasi cerita tidak terasa. Pesannya jelas, jangan termakan rasa ingin tahu.

Skor: 4,5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)