all creatures

Sebelum menulis postingan ini, tak sengaja saya menemukan arsip milis bibliophile-GPU mengenai buku Herriot yang saya sunting terjemahannya. Ternyata, pendirian editor akuisisi (dan besar kemungkinan pihak marketing) bisa berubah seiring waktu berlalu. Samar-samar saya juga pernah membaca pernyataan seorang penulis kenamaan Indonesia yang memfavoritkan If Only They Could Talk. Namun selama ini saya hanya tahu, yang sudah diterjemahkan GPU adalah Dog Stories dan Cat Stories. Padahal yang disebut di atas juga sudah.

bibliogpu

Di bawah ini segambreng kesan proses penyuntingannya:

  • Di lemari saya ada Cat Stories, saya sempatkan baca sebelum menyunting buku ini. Ceritanya sukses menjebol bendungan air mata saya, untungnya relatif tipis. Berkat buku tersebut, saya tidak kelewat putus asa karena tidak kunjung bisa menyentuh beberapa kucing yang betah ngendon di rumah. James Herriot yang pakar hewan saja pernah “gagal”, apalagi saya yang tidak ngerti apa-apa:))
  • Saya bukan pecinta hewan “garis keras”, karena masih geli melihat binatang melata dan main bunuh jika melihat cecunguk (bahasa Sundanya cucunguk sih). Namun kisah-kisah Herriot menghidupkan kenangan manis akan buku-buku klasik terjemahan GPU yang masih saya simpan, di antaranya Liburan di Peternakan Cherry yang bikin terkenang-kenang akan Tammylan si orang liar.
  • Ketika belajar menulis, saya paling senang dengan sudut pandang “aku” alias orang pertama. Rasanya lebih dekat dan lebih lancar. Itu juga yang membuat bersukacita mengedit novel bernapas memoar ini. Sebenarnya memang autobiografi sang dokter hewan, hanya saja menggunakan nama pena dan beberapa nama tempat (termasuk Darrowby) merupakan hasil samaran. Teknik sang penulis juga membuat saya ingat anjuran beberapa penulis bahwa menggabungkan beberapa cerita (ala kumpulan cerpen) dapat menghasilkan novel yang lumayan tebal sesuai syarat penerbitan. Dengan pengalamannya yang variatif dan bagai catatan harian, sangat lumrah jika novel Herriot pun mirip kumcer. Buat saya, asyik-asyik saja. Malah rasa fiksinya lebih kental karena gaya tutur Herriot. Kebanyakan bab ditutup dengan kalimat dialog.
  • Di buku pertama seri memoarnya ini, Herriot menggunakan metode kilas balik. Dia memilih kisah yang “nendang” sebagai pembuka sehingga menarik untuk dibaca terus. Rasanya senasib banget, lantaran seperti penerjemah dan editor buku, dokter hewan juga dibanding-bandingkan, tidak langsung dipercayai, dan banyak lagi yang bikin saya merasa tidak sendiri. Saya ngakak sekaligus kasihan ketika Herriot ditunggui (atau tepatnya “ditonton”) sembari dikritik terus-menerus oleh orang yang mengaku lebih tahu.

“And how long have you been qualified, may I ask?”
“Oh, about seven months.”
“Seven months!” Uncle smiled indulgently, tamped down his tobacco and blew out a cloud of rank, blue
smoke. “Well, there’s nowt like a bit of experience, I always says. Mr. Broomfield’s been doing my work now for over ten years and he really knows what he’s about. No, you can ’ave your book learning. Give me experience every time.”

  • Kemudian bagian yang menghanyutkan emosi saya:

Dengan cepat aku menggeser simpul tali tadi ke belakang telinga si anak sapi. “Sekarang tarik kepalanya keluar sementara induknya mengejan.”

“Jangan! Seharusnya kau tarik kaki-kakinya!” seru Uncle.

“Tarik tali sialan itu, kataku!” Aku berteriak sekuat tenaga dan langsung merasa enakan sementara Uncle mundur dengan tersinggung ke ikatan jeraminya kembali.

  • Memang sukar melepaskan unsur hati, sebab pada dasarnya berurusan dengan hewan sangat melibatkan perasaan. Di novel Snowfall at Willow Lake, dokter hewan diragukan fungsinya saat terpaksa mesti merawat pasien manusia. Ibarat detektif kehewanan di Ace Ventura: Pet Detective, dokter hewan dianggap bukan dokter betulan.
  • Seperti biasa, bagi saya novel yang memotret dunia pria dan dengan sudut pandang pria punya daya tarik tersendiri. Penyemarak perjalanan karier Herriot adalah kakak-beradik yang serumah dengannya sekaligus menjadi rekan praktiknya, Siegfried dan Tristan Farnon. Siegfried ini atasan Herriot (dalam film diperankan Anthony Hopkins), nyentrik, dan sebagaimana umumnya kakak, hobi mencereweti adiknya. Jika Siegfried dan Tristan sudah berinteraksi, saya mulas karena tertawa melulu. Semakin bawel Siegfried, semakin cuek dan iseng sang adik yang acuh tak acuh. Selain sangat menyayangi adiknya, Siegfried pelupa sehingga walau sudah diusir, Tristan bisa santai kembali ke rumah esok pagi.

Kalau ditilik benar-benar, Siegfried sendiri tak kalah eksentriknya.

Setelah semua rekening dilunasi, sisa uang dijejalkan begitu saja ke belanga timah di rak perapian. Dia tinggal meraup segenggam uang bila menginginkannya. Aku belum pernah melihat dia mengeluarkan dompet, tetapi saku-saku celananya selalu penuh uang receh dan uang kertas yang kusut. Saat mengeluarkan termometer dari saku, uang pun ikut berhamburan keluar.

Perintah dan pengarahan sang atasan pun kerap membuat James bingung (sebenarnya lantaran Siegfried pelupa akut). Suatu kali, James diomeli karena mau repot-repot dengan urusan kecil. Menurut Siegfried, sesekali petani harus dihukum dengan hewan mati. Namun beberapa hari kemudian, James ditegur sebab menolak datang setelah ditelepon malam-malam dan menurut bosnya, masalah sepele pun perlu ditangani. Jika saya jadi Tristan dan abang saya seperti Siegfried, saya juga akan bersantai, cengengesan, dan menanggapi omongannya sambil lalu saja:p

  • Saya belum sempat mendata daftar istilah kehewanan yang bertebaran di sini. Terlalu sayang melewatkan asyiknya belajar perkara administrasi di praktik rumahan, cara menagih, berkomunikasi dengan klien, merawat alat kerja, menikmati profesi yang kadang bikin menyerah lalu menghibur diri dengan alam indah pedesaan sebagai imbalan nonmateri.

Perempuan itu mempelajari kedua buku itu untuk beberapa menit dengan ekspresi terheran-heran yang kemudian berubah menjadi rasa humor yang muram. “Kalian harus belajar menulis lagi kalau mau aku mengurus pembukuan kalian. Di sini terlihat tiga macam tulisan tangan, tapi yang satu ini yang paling buruk. Benar-benar mengerikan. Tulisan siapa ini?”

Saya sendiri butuh sekretaris setegas Miss Harbottle, tapi ngeri juga. Selama ini sayalah asisten dan sekretaris pribadi suami, tak bisa dibayangkan kalau balik dibaweli orang lain:))

  • Tidak semua klien keras dan menyulitkan, di samping risiko dokter hewan yang umum yakni memar-memar karena digigit, dicakar, atau ditendang binatang ternak besar. Dick Rudd, seorang petani miskin, merupakan salah satu yang hangat dan mengharukan.

Ketika aku berbincang di dapur bersama seluruh keluarga yang ikut tertawa bersama Dick, aku kagum melihat betapa mereka puas dengan keadaan mereka. Tak seorang pun pernah menjalani hidup enak tetapi itu tidak jadi masalah bagi mereka. Mereka menganggapku sebagai sahabat dan aku sungguh bangga akan hal ini.

Setiap kali meninggalkan pertanian itu, aku menemukan sesuatu di jok mobilku—roti buatan sendiri atau tiga butir telur. Aku tidak tahu bagaimana Mrs. Rudd bisa menyisihkan oleh-oleh itu, tapi yang jelas, dia selalu melakukannya.

James merasa gagal dan bersalah, sewaktu sapi milik keluarga itu ternyata tak tertolong. Reaksi keluarga Rudd sangat menyentuh.

Wajahku pasti terlihat sangat memelas, sebab tiba-tiba dia tersenyum lebar. “Tidak mengapa, anak muda. Kau telah berusaha sebaik mungkin.”

Namun, saat aku melangkah pergi, aku tidak begitu yakin. Mrs. Rudd menjumpaiku di mobil. Hari itu dia membuat roti, jadi dia menyodorkan sepotong ke tanganku. Ini membuatku semakin sedih.

Mereka mengingatkan saya akan pertemuan berharga dengan orang-orang bermental kaya dan tahan banting. Ada lagi potret keluarga kaya yang memprihatinkan, sekaligus memilukan.

Tangan pria itu bergetar sementara dia bicara. Aku juga melihat gejala ini saat dia memegangi kepala anjing itu. Aku bertanya-tanya apakah dia menderita penyakit Parkinson, gangguan saraf, atau karena minuman keras. Yang pasti, dia menuangkan banyak wiski ke gelasnya, tapi saat dia menunggingkan botol itu, tangannya bergetar lebih keras hingga wiskinya tumpah ke lantai kayu yang mengilat.

“Ya ampun! Astaga!” teriak Mrs. Tavener. Ada nada yang seakan berkata, oh tidak, jangan terjadi lagi. Julia menepuk dahinya sambil menatap langit. Tavener melirik takut-takut kepada kedua perempuan itu lalu mengulurkan gelas kepadaku sambil tersenyum lebar.

Sungguh bertolakbelakang dengan keluarga lain yang lebih sederhana.

“Ke desa! Jauh amat, hanya untuk membeli sebotol Guinness. Jaraknya pasti tak kurang dari tiga kilometer, belum lagi pulangnya kau harus mendaki bukit ini. Apa kau pergi sejauh itu hanya demi satu botol?”

Aye, cuma satu botol,” bisiknya sambil menghitung enam penny di telapak tangannya dengan tenang. “Dad sudah begadang semalaman menunggui lembu betina muda melahirkan—dia capek sekali. Aku takkan pergi lama dan dia bisa minum Guinness dengan makan malamnya. Dia suka itu.” Gadis itu menatapku dan berkata, “Ini akan jadi kejutan baginya.”

 

herriot2 herriotkoreksi
  • Poin lain yang menyebabkan saya bersukacita: penerjemahnya. Cukup sering saya menangani karya beliau, meski belum semuanya terbit. Ternyata Ibu Lanny peraih penghargaan World Quilt di Nagoya. Rata-rata penerjemah dan editor memang hobiis keterampilan tangan, utamanya yang berkenaan dengan kain. Saya sih tidak setekun itu:p

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)