Sudah pasti fiksi, sesuai yang pernah saya tulis di sana. Kami cukup beruntung karena berstatus menikah ketika muncul peluang turut menggarap genre tersebut. Tak urung ada rasa penasaran dan tertantang juga, sebab buku roman terjemahan menimbulkan konotasi dan kesan berbeda dibandingkan roman dalam negeri. Di lain pihak, bercokolnya genre ini cukup kuat dan masih mendominasi pasar. Artinya, lumayan laris. Saya kerap mengamati (atau tak sengaja menemukan) konsumen toko buku online yang melakukan PO. Tidak jarang, 2 dari 3 buku pilihan mereka adalah roman terjemahan.

Jujur, sewaktu membaca buku terjemahan genre ini (selaku penikmat, sebelum mencebur ke perbukuan), tak pernah terpikir sepeeti apa aslinya. Tak terbayang ada tahap penghalusan, apalagi tekniknya. Dan ketika kami terjun langsung dengan bimbingan editor penanggung jawab, rasanya jadi pengetahuan tersendiri yang bisa jadi tidak ditemukan di genre lain. Katakanlah sedapat mungkin menghaluskan tanpa terasa “mengagetkan” ibarat melangkahi anak tangga dua-dua tapi tak sampai terpeleset.

Selaku editor, mata saya terbuka akan popularitas dan kampiunnya para pengarang roman luar negeri ini. Mereka serius dan prolifik. Memang sih, mayoritas masih perempuan kendati James Patterson cukup mahir menulis drama romansa yang menyentuh. Cerita-cerita romansa yang ringan kabarnya menjadi hiburan pembaca yang “lelah” dengan keseharian dan kesibukan. Tiap pemabca berbeda, misalnya saya terkadang lebih suka “lari” ke buku thriller walau tidak alergi bila ada porsi romansanya juga.

Ada memang, yang lebih menyoroti unsur romansa sehingga lain-lainnya terasa “kabur” dan tidak dijelaskan lagi. Namun ada juga pengarang yang menggunakan sudut pandang atau mengangkat tema relatif unik serta jarang difiksikan oleh penulis genre lain. Di sinilah terasa bekal yang bermanfaat untuk menyunting buku romansa karya penulis Indonesia atau buku nonroman.

Sependek pengalaman kami, sama saja dengan genre lain, roman ini luas dan beragam. Ada yang sangat ringan, ada yang menonjolkan drama keluarga, ada yang dibaurkan secara pas dengan thriller, ada yang memukau dari segi perwatakan, sehingga saat membaca dan menyunting, saya bisa sangat menikmati sekaligus belajar kepenulisan. Karena jarang melirik materi aslinya, baru belakangan saya menyadari bahwa kisah roman ini acap kali rumit bahasanya dan mengandung dialek-dialek yang sudah pasti menantang bagi penerjemah. Dua jempol saya pada penerjemah fiksi roman yang rata-rata piawai dan luwes. Saya pribadi belum tentu bisa menerjemahkan sebagus mereka.

Tentang suami yang sempat ikut mencicipi penyuntingan buku roman ini, sesungguhnya dia tak sendiri. Saya mengamati munculnya nama pria lain yang sering menjadi editor fiksi roman, hanya saja beliau rendah hati sehingga mungkin “luput” dari sorotan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)