Sampai hari ini, masih ada yang bertanya atau heran kenapa saya “mau-maunya” jadi editor. Jawaban saya meniru dialog favorit di film We Bought A Zoo, “Kenapa nggak?”

Setelah enam tahun menjalani profesi ini, ternyata saya berkembang menjadi tipe editor cepat move on. Sekarang saya menghadapi editan seri, buku sebelumnya saya juga yang menyunting. Tapi saya sudah lupa jalan ceritanya, apalagi nama karakter-karakternya. Benarlah kata seseorang, “Tuhan merahmati kita dengan anugerah lupa.”

Seperti Judika yang tidak hafal istrinya pernah menjadi duta apa saja, Mas Agus dan saya pun demikian. Yang kami paling ingat biasanya yang sedang dikerjakan saja. Terakhir kali main “tes-tesan”, editan sendiri yang dia ingat adalah Meluha, Hatta (terutama sewaktu belum terbit), Amazing Baitullah, Muhammad, Sam Lang, dan Swimsuit.

Lantaran lupa juga, saya rada panik sewaktu mau kerja dan mendadak modem tak terbaca. Katanya, “SIM Card invalid.” Saya sudah restart laptop, masih sama. Kemudian ingat satu trik yang pernah dicoba: copot kabelnya, pindah ke colokan lain di samping. Beres deh.

Tampaknya belum afdol jadi pekerja lepas kalau belum pernah mengalami kendala-kendala teknis macam ini di waktu diuber setan deadline.

Tambahan yang baru saya ingat, inspirasi dari wawancara Didi Petet satu ini:

“Sampai kapan mau berakting?” Jawaban beliau, “Sampai mati.”

Mungkin saya salah, tapi saya belajar bahwa mengatur napas menjadikan komunikasi lisan lebih baik. Artinya, suara rendah tapi jelas. Sama dengan latihan napas sembari mengatur emosi ketika menulis tangan:D


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)