Sudah banyak penerjemah yang tahu, secara langsung atau tidak, bahwa kinerja tidak optimal dan kelalaian fatal dapat berdampak penghentian order. Dunia bisnis (perbukuan) memang kecil, perlu sangat hati-hati terutama jika bekerja sama dengan penerbit berupa grup. Biasanya editor anak perusahaan/lini saling kenal dan saling membisiki.

Editor lepas pun tidak luput dari risiko ini. Saya pernah diceritai editor in house, sangat mengecewakan ketika editor lepas yang dimintai bantuan mengecek konten dan mendapat penjabaran rinci tugasnya terkait suatu naskah ternyata melakukan sambil lalu saja. Seperti proofreader, malah. Alhasil tim redaksi penerbit harus berpayah-payah mengedit ulang. Selain buang waktu, buang uang juga. Ini pertimbangan “berbahaya” yang dapat menghentikan kerja sama penerbit dengan editor lepas tersebut.

Kali lain, ada buku-buku yang diterbitkan kembali atas permintaan pasar. Ternyata prosesnya bukan langsung cetak begitu saja. Ada penyesuaian bahasa, apabila zamannya berbeda dan penerbitan awal buku itu jauh berselang dengan tahun produksi barunya. Apabila penulis menghendaki (pada naskah lokal), ada tambahan-tambahan yang bisa menyegarkan naskah/cerita. Dengan kata lain, konten ditilik ulang. Ditinjau pulalah kualitas penyuntingan, termasuk bila dikerjakan editor lepas. Bila dinilai tidak memuaskan, penyuntingan diulang oleh editor lepas lain. Artinya mulai dari awal, makan waktu dan dana tambahan sudah pasti. Ini terjadi beberapa kali di penerbitan, otomatis penyunting versi awal tidak direkomendasikan lagi secara internal.

Memang penghentian order tidak melulu berarti karena performa kita kurang baik saat menyunting. Bisa saja sifatnya sementara (baca: dalam waktu yang tidak bisa ditentukan) karena penerbit beralih segmen, genre buku yang ada belum ada yang sesuai, dan tingkat kecocokan gaya penyunting dengan selingkung penerbit/subjektivitas editor in house. Mengenai yang terakhir, ini berarti “mentok” di penerbit C bisa saja berjodoh dengan penerbit D. Sanksi di atas dapat dijatuhkan karena hal lain, semisal menghilang tanpa kabar di tengah penggarapan order atau keterlambatan yang keterlaluan. Sama dengan penerjemah lepas.

Tulisan ini semata pengingat bagi saya pribadi bahwa menjadi pekerja lepas memang mirip “pertaruhan”. Kalau tidak giat evaluasi dan introspeksi, karier bisa terancam.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)