Saya mencoba menerjemahkan sesuatu yang pernah dikerjakan. Misalnya seperti berikut ini:

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”City of Flowers, Bab 13 hal. 194-195″ quotestyle=”style01″] Lucia di Chimici was a redhead with fair skin, like her father Prince Jacopo, so she did not want to get married in pure white.

‘Next to you I would look like a corpse,’ she told her sister Bianca, who was dark like their mother. ‘I shall wear gold.’

It was a bold choice for a Talian, because gold was a lesser valued metal than silver in their world and there was a danger of looking cheap. But there would be nothing cheap about Lucia’s wedding dress. The gold taffeta would be oversewn with emeralds and she would wear her long dark red hair part loose and part plaited with gold and green ribbons.

She would look more dramatic than Bianca, whose
choice was simple white satin rendered sumptuous by
the addition of diamonds and pearls. Their father
shuddered a little when he heard the cost, but he was
proud of his girls’ beauty and didn’t take much
persuading by his wife.[/sws_blockquote_endquote]

Hasilnya:

Lucia di Chimici berambut merah dan berkulit terang, seperti ayahnya Pangeran Jacopo, karena itu ia tidak mau mengenakan pakaian serbaputih untuk menikah.

“Di sebelahmu aku akan tampak seperti mayat,” kata Lucia pada saudarinya Bianca, yang berkulit gelap seperti ibu mereka. “Aku akan pakai warna emas.”

Sungguh pilihan berani bagi orang Talia, sebab emas jenis logam yang bernilai rendah dibandingkan perak di dunia mereka sehingga sang putri terancam tampak kurang berkelas. Namun busana pengantin Lucia tak ada yang murah. Taffeta warna emas akan disemati zamrud, sedangkan rambutnya yang panjang dan merah tua digerai lepas, sebagian dihiasi pita emas dan hijau.

Dia akan tampak lebih mencolok ketimbang Bianca, yang memilih gaun satin putih sederhana yang dipermewah dengan sematan mutiara dan berlian. Ayah kedua gadis ini agak merinding mendengar biayanya, namun dia bangga akan kecantikan putri-putrinya dan tidak mempan dibujuk sang istri.

 

Terjemahan saya dua tahun lalu, mentah-mentah alias sebelum disetor ke editor:

Lucia di Chimici berambut merah dan berkulit terang, seperti ayahnya Pangeran Jacopo, maka ia tidak ingin menikah dengan busana serbaputih.

“Bisa-bisa di sebelahmu nanti aku seperti mayat,” katanya pada Bianca, yang berkulit gelap seperti ibu mereka. “Aku akan pakai warna emas.”

Pilihan itu termasuk berani bagi orang Talia, mengingat emas adalah logam yang tidak terlalu berharga daripada perak di dunia mereka dan ada risiko tampak kurang bernilai. Namun tak ada yang murah menyangkut gaun pengantin Lucia. Taffeta emas dijahitkan dengan zamrud dan ia akan menggerai rambut panjang merah tuanya yang disemati pita emas serta hijau.

Gadis itu akan tampak lebih dramatis ketimbang Bianca, yang semata memilih gaun satin putih yang dipermegah hiasan intan dan mutiara. Ayah mereka agak bergidik mendengar biayanya, namun ia bangga akan kecantikan kedua putrinya dan tidak perlu dibujuk sang istri.

 

Perbedaannya cukup jelas meski tidak banyak, khususnya menyangkut pemakaian kata ganti yang merupakan kelemahan saya sejak lama. Mengenai didn’t take much, terjemahan kedualah yang benar menurut rujukan ini


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.