[sws_green_box box_size=”100″] Dia bilang Second Prize Wang berkata kepadanya bahwa menghafal kosakata tidak cukup untuk belajar bahasa Inggris, begitu pula menghafal tata bahasa. Kau harus membaca teks. Itu akan membantumu memperoleh rasa untuk bahasa tersebut. Dan, yang lebih penting, kau perlu membiasakan diri berpikir dalam bahasa Inggris. [/sws_green_box]

Baru tahun 2012 saya menyunting novel ini. Relatif belum lama, karena ada suntingan lain yang lebih dulu dan belum terbit. Tapi entah kenapa, suatu hari di bulan Desember lalu saya teringat novel English dan bertanya-tanya dalam hati kapan terbitnya.
Bicara penyuntingan atau terjemahannya, jelas tidak banyak yang bisa diceritakan. Begitu terima e-mail dari Mbak Editor Penanggung Jawab, saya senyum-senyum karena pernah lihat judul buku ini di daftar terjemahan Uci yang belum terbit. Terjemahannya tidak menyulitkan sama sekali, saya tinggal menikmati cerita saja. Ketika hendak menanyakan beberapa hal pada Uci, dia langsung kirim naskah lewat e-mail agar saya mudah membandingkannya. Kadang lebih enak “mengganggu” penerjemah daripada pemberi tugas, apalagi kalau sudah kenal. Dalam hal ini, saya berterima kasih karena Uci senantiasa memudahkan tugas saya.
Menariknya, novel Asia ini menampilkan karakter utama anak lelaki berusia belasan tahun. Tapi English bukan bacaan anak. Aliran tuturannya lancar, tidak terkendala bahasa yang banyak pakem seperti buku anak, dan saya segera larut meski jujur tidak ingat sampai detail. Saya sempat mengagumi sampul buku aslinya saja berhari-hari, malah.
Seperti kebanyakan novel Asia yang pernah saya temui dalam rangka kerja ataupun bukan, suasana English relatif getir. Walaupun demikian, saya tidak memihak dia atau menentukan karakter paling disukai. Yang jelas nama-namanya indah lagi puitis: Love Liu, Second Prize Wang, Sunrise Huang…
Oh ya, saya juga suka akhir ceritanya:)

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)