Penulis: Sandra Brown

Penerjemah: Amelia Listiani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 684 halaman

Cetakan: ke-2, 2005

 

Sinopsisnya, yang membeberkan bahwa karakter sentral novel ini adalah seorang editor penerbitan, adalah salah satu daya tarik karya Sandra Brown tersebut. Kendati tidak semua buku yang memotret dunia penerbitan bisa menyajikannya dengan baik, dalam arti sesuai ekspektasi saya, namun fiksi yang mengangkat area itu perlu dilirik dan dikoleksi. Titik awalnya berupa sosok penulis misterius, naskah yang membetot minat, dan editor yang penasaran bernama Maris Martleby-Reed. Ia menjalankan penerbitan keluarga dan bahu-membahu dengan sang suami, Noah Reed.

Aneka sudut yang ditampilkan pengarang dalam cerita berbingkai ini amat utuh, tanpa lubang. Hubungan Maris dengan sang ayah, Daniel Martleby, misalnya. Juga kedekatan mereka dengan Maxine yang seperti ibu kedua Maris sepeninggal ibu kandungnya. Tidak mudah bagi seorang ayah lansia membina kasih sayang dengan anak tunggalnya, mengingat jarak umur, dan saya belajar dari Daniel-Maris. Semula dialog dan arus atensi keduanya terkesan ‘di permukaan’, tapi insting saya meyakini bahwa Sandra Brown menyimpan kejutan di balik itu.

Selain karakter Daniel, Maris juga saya favoritkan. Ia bukan wanita lemah, walau adakalanya harus mengendalikan emosi dan kepedihan. Tempaan sang ayah dan kehidupan menjadikan Maris tidak mudah dikelabui. Di lain pihak, saya pun menikmati bab-bab novel Envy yang disisipkan sepanjang perjalanan Maris memupuk kepercayaan diri penulisnya untuk menyelesaikan buku itu. Sang editor pun bersikap tidak peduli pada wanita yang tidak disukainya, kritikus Nadia Schuller, bahkan terang-terangan memperlihatkan perasaan tersebut.

Asyiknya misteri adalah menerka-nerka siapa dan mengapa. Satu sisi berhasil saya tebak, akan tetapi banyak juga yang tidak terduga. Misalnya,

Spoiler Inside SelectShow

Porsi percintaannya lumayan banyak, jadi buku ini hanya cocok untuk konsumsi dewasa.

Salah satu dialog yang saya senangi ketika Noah bertanya mengapa Maris mau repot-repot membaca ulang naskah yang sudah ditolak editor lainnya, ia menjawab,

Karena ayahku mengajariku untuk menghargai siapa pun yang mencoba menulis. Bahkan kalaupun bakat si penulis itu terbatas, usahanya saja sudah berhak dipertimbangkan.

Skor: 3/5

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)