estirinurbad

 

Sependek ingatan saya, karya terjemahan Mbak Esti yang saya baca pertama kali adalah Kastel Awan Burung Gereja-nya Takashi Matsuoka. Belum terlalu “ngeh” nama beliau, tapi terjemahannya tak kalah indah dengan buku asli.

Belakangan setelah kenal buku-buku lain, saya hampir tertukar antara Mbak Esti dan Mbak Budhyastuti Rizki. Untunglah sudah bertemu keduanya:)

Beliau salah satu tempat bertanya yang sering saya ganggu, karena saya pandang mampu menjelaskan dengan baik dan tidak sekadar menguasai “pakem”. Dari Mbak Esti-lah saya mengukuhkan kebiasaan yang dianjurkan Pak Hendarto Setiadi, yaitu membaca per alinea sebelum menerjemahkan, tangkap artinya, kemudian tulis kalimatnya supaya lebih cair dan luwes. Mbak Esti pula yang memberi wejangan dan melihat secara jeli kekurangan saya seputar kata ganti, salah mengerti kalimat negatif, serta trik-triknya. Belakangan saya ketahui, beliau tumbuh di keluarga yang sangat cinta buku. Ibunda Mbak Esti pun masih mampu melahap novel terjemahan tebal-tebal, termasuk thriller , fantasi, bahkan yang hurufnya nyaris mini (membuat saya minder sekaligus pede:)))

Mengingat kesibukan Mbak Esti yang kini menjadi editor Qanita, senang sekali wawancara ini bisa terselenggara juga:D Singkat cerita, silakan nikmati saja obrolan kami di bawah.

 

1. Masih ingat nggak, kamus cetak pertama yang digunakan untuk menerjemahkan buku?

J: Nerjemahin buku ya? Hmmm modalnya masih dikit. Waktu itu tahun 2001, baru lulus kuliah, jadi bekel kamusnya ya kamus zaman kuliah. Hasan Shadily, Oxford Advanced Learner Dictionary, Longman dan KBBI punya bibi.

 

2. Dari semua buku yang pernah Mbak terjemahkan, mana yang paling berkesan? Kenapa?

J: Berkesan ya order pertama, The Great Memory Book dari Kaifa. Pusing nerjemahinnya karena harus main rima. Terus selanjutnya adalah Sang Penebus (I Know This Much is True karya Wally Lamb), nangis-nangis nerjemahinnya karena baru punya anak terus tokoh di situ anaknya meninggal. Ternyata setelah jadi emak-emak aku cengeng :p. Yang selanjutnya adalah Icarus Girl, karena horor. Tapi biasanya terjemahan yang berkesan bagiku itu bukan karena susah nerjemahinnya, harus nyari padanan atau apa, tapi karena ceritanya. Nerjemahin kan sekalian baca, jadinya gitu deh. Aku mendekati terjemahan sebagian dengan kacamata pembaca, jadinya yang nempel malah kisahnya. Kalau kisahnya seru jadi berkesan.

 

3. Konon editor in house punya “indra keenam” khusus untuk menyerahkan tugas yang cocok pada penerjemah/editor lepasnya. Menurut Mbak sendiri, gimana?

J: Kurasa ini karena alah bisa karena biasa. Pengalaman.

 

4. Bagaimana kiat meningkatkan/mempertajam rasa bahasa? Apakah membaca saja cukup? Membaca semua genre atau yang tertentu saja?

J: Membaca, membaca puisi, menulis puisi lebay, menyanyi, bermain kata, melamun hehehe. Yang jelas aku sering dapat pelajaran bagus dari mengedit terjemahan atau tulisan orang lain. Ambil yang bagus-bagus, yang kurang bagus jadikan pelajaran untuk evaluasi.

 

5. Menurut pengamatan dan pengalaman Mbak Esti, apa kira-kira yang membuat penerjemah turun performa/kualitasnya?

J: Hmmm pertanyaan yang sulit dijawab. Kalau dari pengalamanku sendiri sih (saat masih freelance dulu), ada beberapa faktor: 1. Kebanyakan order (makanya ukur kemampuan diri *tampardirisendiri) 2. Bukunya nggak nyambung dengan si penerjemah. Misal biasa non fiksi dikasih sastra berbunga-bunga. Ini sesuai dengan teori Mas Hernowo tentang konektivitas. Dalam setiap bacaan (baca: terjemahan), pasti ada yang sangat konek dan sangat nggak konek dengan kita. Yang konek pasti pengerjaannya lebih mudah daripada yang kurang konek. 3. Yang terakhir adalah kebanyakan  main-main dan baru kebut menjelang deadline alias kurang disiplin. Tantangan yang paling berat dalam kerja freelance adalah mendisiplinkan diri sendiri. Di kantor pun begitu *sigh :p

 

6. Apakah mungkin ada penerjemah/editor lepas yang mampu menangani hampir semua genre sama baiknya?

J: Secara teori sih ada, namun praktiknya aku tak berani bilang tanpa didukung data empiris #halah

 

7. Ketika Mbak sudah jadi editor, kemudian hasil terjemahan baru terbit dan disunting editor lain… bagaimana perasaan Mbak?

J: Stresssssss…. deg-degan… gigit-gigit kuku…. nightmareeeee….. :p hehehe

Enggak juga sih, diedit dan mengedit itu adalah sebuah proses alamiah yang harus dijalani oleh para pekerja buku manapun. Nobody’s perfect

 

8. Pernah deg-degan nggak menyunting karya penerjemah yang sudah berjam terbang tinggi dan terkenal? Gimana mengatasinya?

J: Pernah dong. Pekerjaan suntinganku yang pertama adalah terjemahan Bu Rahmani Astuti (Stephen King, On Writing). Saya yang masih bau kencur lumayan keder waktu itu. Saat setor bab pertama aku dimarahin oleh Mbak Pangestuningsih (kini CEO Noura Books – Rinurbad), karena kurang berani. Katanya, kalau memang harus diubah total ya diubah. Dan saya mendapat penataran tentang beda editor dan proofreader :p (Tentang ini, saya pernah diwejangi juga oleh Mbak Esti di kantor Mizan sekitar dua tahun silam – Rinurbad). Kalau di kantor lebih mudah,  bisa banyak konsul sama senior hehe

 

9. Mbak pernah bilang, mengedit terjemahan sendiri bisa dilakukan sambil jalan karena melirik kalimat sebelumnya. Bisakah teknik ini dijelaskan lebih lanjut?:)

J: Terus terang aku lupa ini maksudnya apa hehehe… Kayaknya nanti-nanti kalau ngobrol dengan Rini aku harus pakai perekam atau pencatat biar semua omonganku terarsip. Siapa tahu tiba-tiba nongol lagi kayak gini hehehe…

Gini aja deh, dalam nerjemahin biasanya aku begitu selesai satu alinea trus baca lagi sekaligus ngedit. Satu bab berhenti trus baca lagi. Begitu sampai pekerjaan selesai. Baru setelah selesai semua, pendam 1-2 hari, dan baca lagi sampai tuntas. Tapi sebenarnya ini masalah kebiasaan saja, kalau memang kita biasa nerjemahin kalau ada yang kelewat atau ga pas pasti kerasa saat dibaca.

 

10. Sejauh mana pengaruh latar belakang akademis Mbak dalam pekerjaan?

J: Berpengaruh, karena setidaknya aku lulusan Bahasa Inggris meski harusnya jadi guru hehehe. Yang jelas kuliah macam Sentence Analysis sangat berguna untuk mengurai kalimat yang panjang dan belibet. Sociolinguistic dan Psycholinguistics juga berguna untuk memaknai konteks. Tapi yang penting itu cinta #ampun

 

11. Terakhir, bagaimana kiatnya berkonsentrasi mengedit/menerjemahkan dalam suasana ramai? Kalau memang dibiasakan/dikondisikan, berapa lama Mbak melalui prosesnya?:)

Jujur sih karena aku orangnya juga ribut, ini hampir tak pernah jadi masalah. Kebiasaan sejak orok, kalau belajar selalu ada musik, plus keluarga besar jadi terbentuk sendiri.
Akibatnya kalau kerja tak harus sepi. Malah biasanya ada suara TV, denger musik, atau wayang kulit di radio (kalo malam-malam). Apalagi kalau kisahnya menarik, bisa-bisa malah ga sadar keliling 😀
Baru-baru ini malah diketawain temen kantor karena tahu-tahu terisak-isak pas ngedit Allegiant :p

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)