Dulu saya jingkrak-jingkrak heboh tatkala buku terjemahan atau suntingan terbit. Luas distribusinya, tingkat penjualannya, tak menjadi soal. Sampai suatu hari diceritai editor mengenai laporan buku laris yang ia terima, termasuk terjemahan.

Mengalami ini, misalnya, terbilang baru bagi saya. Juga tatkala terjemahan yang satu ini direspons cukup baik. Seperti halnya buku karya penulis Indonesia alias nonterjemahan, tingkat penjualan adalah misteri hingga kini. Popularitas di negara asalnya, kualitas isi, kontroversi, kesohoran pengarang, promosi, penghargaan yang diraih, bahkan cover, tidak mutlak berbanding lurus dengan laris apalagi sampai cetak ulang.

Maka sekarang, setiap kali membaca jadwal terbit yang rutin dirilis salah satu penerbit relasi saya, ada rasa deg-degan meneliti deretan judul buku yang terbit bersamaan. Buku fantasi yang dinanti-nanti pembaca, misalnya. Atau karangan penulis yang sudah difilmkan dan penggemarnya banyak sekali. Belum lagi dari penerbit lain dengan momentum masing-masing.

Namun begitulah uniknya perbukuan, tak jarang buku yang dikira “luput dari perhatian” tetap mendapat tempat di hati konsumen. Tak ayal, saya ikut senang menyimak cerita para peminat genre tertentu yang setiap kali berbelanja, membeli lebih dari satu. Atau begitu satu judul terbit, mereka langsung ke toko hari itu juga. Sangat benar kata editor satu ini, tak ada buku untuk semua orang.

Everyone has a part to play, kutipnya lebih jauh dalam suatu postingan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)