If there was a key, there was a lock. If there was a name, there was a person.

Bagi Oskar Schell (Thomas Horn), segala sesuatu harus masuk akal. Karena itu sulit baginya menerima pemakaman atas nama sang ayah, Thomas (Tom Hanks) yang menjadi korban peristiwa 9/11 WTC, dengan peti mati kosong.

Penelitian dan pencarian setengah jalan yang ditugaskan ayahnya diubah arah ketika Oskar menemukan sebuah kunci di lemari Thomas. Untuk mengais-ais fakta di balik kunci tersebut, yang diyakininya perlu dicari, Oskar harus berbohong pada ibunya (Sandra Bullock) bahwa ia tengah mengikuti konvensi komik. Berdasarkan petunjuk yang ada, Oskar menemui banyak orang bernama belakang Black. Mirip upaya Thomas semasa hidup yang mendorong Oskar berbicara dengan orang lain, hal yang sulit dilakukan bocah ini.

Tak diragukan lagi, Thomas Horn tampil sangat bersinar dan menjadikan cerita film yang diangkat dari novel Jonathan Safran Foer ini kian memukau. Saya tidak pernah bosan menyimak kisah-kisah anak autis, baik fiksi maupun nyata, dan sudut pandang Oskar yang menjadi dominan ditambah narasi personal sehingga film ini terkesan seperti memoar membuat saya betah menyimak sampai tuntas. Oskar yang berkutat dengan buku telepon serbatebal, membutuhkan tamborin untuk menenangkan diri, panik jika harus naik transportasi umum dan memilih berjalan kaki, kemudian berjumpa aneka karakter manusia dalam pencariannya.

Daya tariknya, tak sekali pun kata autis diucapkan di sini. Penonton (termasuk yang belum membaca bukunya seperti saya) dipersilakan menyimpulkan sendiri. Oskar hanya mengatakan dirinya kerap dicap sangat aneh oleh orang lain, sedangkan Thomas almarhum tidak menganggapnya anak kecil saat mereka bercakap-cakap dan menyebut Oskar “punya cara unik untuk memandang dunia”. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Oskar dan Thomas bermain oxymoron, seperti seriously funny.

Banyak sekali yang bukan semata menyentuh, melainkan menggugah dan menjadi sepotong cermin (kenapa sepotong? Biarlah saya dan Tuhan saja yang tahu) dari potret Oskar, di antaranya keikhlasan dan menjalani hidup setelah seseorang yang penting tiada, tahu kapan saatnya berhenti dan kapan mencoba, serta perlunya meluapkan emosi terpendam. Terutama kesedihan.

Sungguh film yang luar biasa.

Skor: 4,5/5

Gambar poster pinjam dari flixster


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Extremely Loud and Incredibly Close (2011) ”

  1. gravatar lulu Reply
    May 25th, 2012

    Ah, jadi nambah daftar film yang harus ditonton nih. Thanks reviewnya, rin 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      May 26th, 2012

      Siip. Sama-sama, Lul;)

Leave a Reply

  • (not be published)