Fahmy, Femmy, dan ibunda, penerjemah kampiun Sofia MansoorPenerjemah dan editor pria relatif sedikit. Saya pribadi tidak mau menghubungkannya dengan praduga bahwa pekerjaan ini lebih cocok untuk wanita yang cenderung lebih teliti atau semacam itu.

Fahmy Yamani, saudara kembar Femmy Syahrani, sudah telanjur lekat dengan penerjemah horor dan teman-temannya di benak saya. Karyanya yang pertama kali saya baca adalah The Ghost Writer buah pena John Harwood. Beberapa kali saya dan Mas Agus berkolaborasi dengan Fahmy, dalam arti menyunting terjemahannya yang rata-rata “cowok banget”.

Berikut beberapa pertanyaan saya untuk Fahmy yang mengaku tidak sempat ngeblog dan terlalu aktif di media sosial karena kesibukannya ini.

 

1. Bagaimana cara membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga? Kalau tidak keberatan, bisa dikasih gambaran kasar berapa jam Fahmy kerja sehari dan kapan liburnya?

Waktu masih jadi part-timer, biasanya pulang kerja, sampai rumah sekitar jam 17/18. Waktunya bercengkerama dengan keluarga. Saat keluarga tidur jam 21, barulah aku mulai menerjemahkan sekitar 2-3 jam. Kalau hari Jumat atau Sabtu biasanya bisa menerjemahkan sampai pukul 1/2 pagi tergantung mood. Lalu ditambah lagi Sabtu dan Minggu sore sekitar 1-2 jam saat anak-anak tidur sore. Jadi, alhamdulillah, tidak pernah mengorupsi waktu bersama keluarga.

Setelah jadi full timer, bekerja biasanya sepulang sholat subuh sekitar jam 5/6 pagi sampai sekitar pukul 17. Anak-anak pulang pukul 15 langsung ngider main sama tetangga. Setelah istirahat dan mandi sore, biasanya waktu keluarga dari jam 18-21, entah itu tadarusan, makan malam, belajar, nonton TV bersama. Dan, setelah jadi full timer ini, aku mengusahakan tidak kerja setelah jam tidur (jam 21) kecuali ada kerjaan mendesak.
Menurutku, waktu tidur (harus) tetap sama kalaupun begadang atau tidak begadang, yaitu sekitar 7 jam… risikonya kalau begadang (katakan sampai jam 22/23), biasanya baru bangun jam 5, nggak sholat di masjid, kerja jam 6/7. Sedangkan kalau gak begadang (tidur jam 21) bangun jam 4, mulai kerja jam 5/6…. hanya masalah menggeser waktu tidur yang 7 jam itu saja sebenernya… lebih sehat bangun pagi daripada begadang, ya kan?
Walaupun mulai kerja jam 5/6, jam kerja itu rata-rata hanya 7/8 jam (bahkan kadang kurang) karena kepotong mandi, sholat, makan siang, istirahat di sana-sini, kadang tidur siang/sore, dsb.
Diusahakan Sabtu dan Minggu itu waktunya libur bersama keluarga terutama anak-anak… kecuali kalau ada kerjaan mendesak.
Beberapa karya terjemahan Fahmy

2. Dari sekian banyak judul yang sudah diterjemahkan, mana yang paling susah? Kenapa?

 

Untuk buku, yang paling susah itu adalah Les Miserables dan Public Speaking-nya Dale Carnegie karena bahasanya menggunakan bahasa zaman dahulu dan banyak istilah/ungkapan yang perlu diriset lebih mendalam. Stres dah ngerjainnya…
3. Berapa lama tenggat terpanjang nerjemahin buku? Dan berapa lama yang paling singkat?

Tenggat paling lama itu 6 bulan, yang pendek pernah 1 bulan.
4. Menurut Fahmy, idealnya nerjemahin satu buku itu berapa lama?

Idealnya? Tergantung ketebalan bukunya juga sih.

Tapi satu bulan seharusnya sudah cukup dengan syarat tidak diganggu pekerjaan lainnya.

5. Selain thriller, apa genre favorit Fahmy? Adakah buku tertentu yang jadi idaman untuk diterjemahkan?

Genre favorit selain thriller/action itu adalah genre sejarah/kisah dengan latar belakang sejarah… terutama sejarah Islam. Atau berkaitan dengan agama juga asyik (seperti Da Vinci Code). Pengen juga nerjemahin horor, cuma jarang banget kesempatannya.

Kalau idaman, pilihanku jatuh pada genre sejarah Islam (baik fiksi maupun non-fiksi).

6. Fahmy cenderung lebih suka menerjemahkan novel. Bagaimana kiatnya ketika menangani nonfiksi? Apakah ada persiapan khusus, baca buku sejenis untuk mengubah gaya bahasa, atau lainnya?

Nggak ada kiat khusus, karena biasanya memang teks nonfiksi pun sudah berbeda dari sononya dengan teks fiksi, jadi penggunaan bahasa pun secara tak disadari mengikuti pakem non fiksi yang kadang memang lebih kaku. Hanya saja saat menerjemahkan memang berulang-ulang mengingatkan diri sendiri agar tidak menggunakan kata yang berbunga-bunga atau personifikasi, dsb. seperti yang biasa dipakai saat menerjemahkan fiksi.
7. Apa tips menerjemahkan novel thriller/horor?

Rajin mencari dan memilih kata-kata yang sesuai dengan nuansa thriller/horor… kata-kata yang gelap, suram, dan menyeramkan. Hehehe…
8. Di luar pekerjaan, masih sempatkah Fahmy membaca buku? Jawab jujur ya:)

 

Perasaan sih gak sempat… tapi, setelah dipikir2, ternyata masih sempat! Dulu rutin baca majalah Sabili. Selain itu baca buku Islam seperti serial Atlas, buku-buku Irena Handoko, karya-karya Bernard Lewis. Waktu bacanya memang jadi curi-curi waktu dan terpotong-potong sih… seperti di, ehm, kamar mandi, nganter anak les, potong rambut, menunggu dokter, dsb. Jadi tidak menyisihkan waktu khusus di rumah… mending dipake kerja aja waktunya kalau di rumah.

Sekarang masih suka baca novel, tapi nggak sempat lagi. Baca yang dikerjakan saja:)
9. Pernahkah anggota keluarga atau saudara membaca buku yang Fahmy terjemahkan? Atau kalau kumpul-kumpul, lebih suka ngobrol tentang hal lain saja?

 

Kayaknya gak ada. Kalau kumpul-kumpul sering juga membicarakan penerjemahan, tapi tidak pernah membicarakan buku hasil terjemahan masing-masing.
10. Bila anak sudah remaja dan benar-benar cukup umur, mana terjemahan Fahmy yang direkomendasikan untuk dia?

Pertama-tama buku-buku Islam.. baik (nonfiksi) sejarah Islam atau novel berlatar belakang sejarah Islam. Setelahnya, baru genre lainnya… tapi yang pasti sih gak akan ngasih chicklit atau harlequin… wkwkwkwk….

 

11. Terakhir, beban nggak jadi kembaran Femmy Syahrani yang senior dan terkenal itu?

Nggak jadi beban soalnya gak tahu seberapa dahsyat keterkenalannya Femmy…. hahahahaha….

Seriously, dari kecil sudah begitu.. biasa-biasa saja kalau Femmy lebih pintar di akademik, karena tiap orang kan dikasih kelebihan masing-masing… jadi gak perlu iri atau jadi beban… apalagi sama saudara sendiri, hehehe…

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

One Response to “ Fahmy Yamani, Penerjemah Thriller Penggemar Sejarah dan Agama ”

  1. gravatar Fenny Melisa Reply
    October 30th, 2015

    Terima kasih mbak atas tulisannya yang menginspirasi saya yang bercita-cita sebagai penerjemah. Jadi tahu cerita-cerita kehidupan penerjemah hehe

Leave a Reply

  • (not be published)