FAQ

T: Bagaimana cara menjadi penerjemah buku?

J: Silakan baca uraian detailnya di blog Femmy Syahrani. Pengalaman saya seperti ini. Simak juga kisah Mbak Poppy D Chusfani, kiat-kiat Berliani Nugrahani, pengalaman Nurchasanah, Lulu Rahman, dan Uci (Barokah Ruziati).

 

T: Berapa honor penerjemah buku?

J: Silakan baca artikel ini.

 

T: Kenapa honornya tidak dipatok saja? Misalkan untuk genre novel percintaan, minimal sekian rupiah sedangkan genre klasik yang lebih sulit ditentukan lebih tinggi?

J: Karena tingkat kesulitan amat subjektif. Roman yang kerap dipandang ringan pun acap kali mengandung banyak idiom, permainan kata, belum lagi istilah-istilah teknis jika latar belakangnya rumit.

T: Saya dengar ada yang tarifnya termasuk spasi, dan sudah tinggi (di atas 10/karakter). Berarti penghasilannya melimpah dong?

J: Mungkin, kalau bisa menuntaskan buku tebal tiap bulan. Tapi saya yakin banyak yang sepakat bahwa untuk mencapai hasil maksimal, tidak bisa ngebut. Apalagi makin tinggi jam terbang penerjemah, biasanya makin berat naskah yang digarapnya.

 

T: Adakah cara lain di samping melamar dan ikut tes?

J: Jawabannya ada di situ.

 

T: Saya belum berpengalaman sama sekali, jadi tidak punya contoh karya untuk dilampirkan. Bisakah saya tetap melamar?

J: Bisa. Simak pengalaman Selviya Hanna.

 

T: Mungkinkah honor saya naik?

J: Artikel mengenai ini bisa dibaca di sana.

 

T: Mengapa tidak ada postingan mengenai penerjemahan dokumen?

J: Saya sudah lama tidak menekuninya lagi. Blog ini khusus membahas penerjemahan dan penyuntingan buku, sesuai profesi kami berdua. Mengenai terjemahan nonbuku, bisa disimak antara lain di blog bahtera atau milisnya.

 

T: Bolehkah saya magang menjadi penerjemah/editor lepas sebagai asisten Anda?

J: Maaf, tidak bisa. Itu melanggar kode etik, baik tertulis maupun tidak, dalam SPK. Untuk berlatih, Anda bisa menggunakan blog pribadi dengan bahan excerpt buku atau contoh-contoh kalimat seperti di sana.

 

T: Bisakah Anda mempromosikan saya kepada mitra-mitra dan kolega?

J: Saya tidak berwenang untuk itu. Silakan Anda melamar  ke email atau alamat yang tertera di cover-cover buku, meski belum ada lowongan yang dipublikasikan. Bila hasil tes memuaskan, Anda akan mendapat order.

 

T: Saya mendapat alamat email seorang editor dari kenalan, tapi bingung mengontaknya agar tetap santun dan berterima.

J: Ada kiat singkat soal itu di sini.

 

T: SPK itu apa? Isinya apa saja?

J: Silakan baca di situ.

 

T: Apa bedanya proofreader dan editor?

J: Sudah saya tulis di sini dan di sana. Baca juga mengenai ini bila Anda tertarik.

 

T: Apakah order selalu mengalir secara kontinyu?

J: Saya tidak bisa menjamin, dan pekerjaan ini memang relatif ‘tidak menentu’. Silakan baca pengalaman kami di sana.

 

T: Apakah menjadi penerjemah buku mencukupi untuk hidup?

J: Tergantung banyak faktor. Bagi saya pribadi sih, cukup. Namun yang pasti, jangan dibandingkan dengan penerjemahan nonbuku.

 

T: Apakah penerjemah harus lulusan Sastra?

J: Tidak wajib, seperti uraian Nur Aini. Berikut bekal saya menekuni profesi ini.

 

T: Apakah fasih berbahasa asing (Inggris atau lainnya) dan pernah bermukim/studi di luar negeri juga membantu?

J: Tidak selalu, yang lebih penting adalah penguasaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sasaran. Juga kecakapan menulis.

 

T: Seperti apa sih menerjemahkan buku itu? Susah atau gampang?

J: Menurut saya, susah dan susah banget:D. Silakan baca makalah Mbak Poppy yang bisa di-download di blog Uci.

 

T: Bagaimana caranya menjadi penyunting lepas?

J: Pengalaman saya begini.

 

T: Wah, editor honornya tidak besar ya. Mengapa Anda masih menekuninya?

J: Karena saya suka.

 

T: Agar semua job terjemahan dan editan bisa diterima/digarap, kenapa tidak ambil asisten saja? Jadi kita yang supervisi sebelum setor.

J: Lagi-lagi, itu melanggar kode etik profesi. Kerja kolaborasi hanya boleh bila penerbit mengizinkan secara tertulis. Kalau tidak, lalu ketahuan, penerjemah/editor bisa “diberhentikan tidak hormat” oleh klien.

 

T: Kalau sudah sering menerjemahkan, kok masih mau dites?

J: Kenapa harus menolak?:)