Femmy Syahrani bukan nama yang asing di dunia penerjemahan buku. Beragam novel telah dialihbahasakannya, antara lain To Kill A Mockingbird, trilogi Jonathan Strange & Mr. Norrell, Stardust, The Remains of the Day, juga novel sejarah Imperium dan Conspirata. Tangan dingin Femmy juga pernah menyentuh buku-buku nonfiksi, salah satunya Characters & Viewpoint (Orson Scott Card). Berikut hasil wawancara dengan Femmy sekitar 6-7 tahun silam tentang penerjemahan dan bekerja di rumah.

Sebenarnya aku sejak dulu memang ingin bekerja di rumah. Pertama, karena aku memang betah di rumah. Asal ada buku atau film, aku bisa asyik sendiri berjam-jam. Kedua, karena aku merasa tidak mahir multi-tasking. Kalau aku bekerja di kantor, bisa-bisa urusan rumah tangga terbengkalai. Lebih baik aku tinggal di rumah dan mengurus anak dan suami, sambil sekalian bekerja. Jadi, rencananya adalah—mungkin rencana ini sudah ada sejak SMA–kuliah, kerja 1-2 tahun untuk mencicipi dunia kerja, lalu berhenti, menikah, jadi ibu rumah tangga yang baik.

Tapi seperti biasa, rencana tinggal rencana. Sejak kuliah aku sudah mulai menerjemahkan untuk sebuah penerbit di Jakarta. Setelah lulus kuliah dan mendapat order yang teratur, aku langsung memutuskan bahwa inilah karier yang akan kutekuni. Langsung loncat dari kuliah jadi bekerja di rumah. Untuk sosialisasi, kupikir aku bisa mengajar Bahasa Inggris, yang tidak akan mengambil waktuku terlalu banyak (meskipun ini tidak pernah kesampaian hingga sekarang).

Menikmati Dunia Kantoran

Belum setahun berlalu, sebuah penerbit di Bandung menawariku menjadi editor paruh-waktu selama empat bulan, untuk menggantikan salah satu editornya yang akan cuti melahirkan. Aku menerima tawaran itu. Lumayan, bakal dapat juga pengalaman kerja yang pernah kurencanakan itu. Pada akhir empat bulan, aku ditawari menjadi karyawan penuh. Aku terima juga. Aku memang menikmati bekerja di sana, dan tentu saja ini juga merupakan kesempatan bersosialisasi bagi diriku yang senang menyendiri itu.

Berhenti bekerja di kantor hanyalah masalah waktu, kupikir. Satu-dua tahun, atau kalau aku akan menikah. Mungkin, dalam situasiku, pertanyaan yang tepat bukanlah kenapa aku berhenti, melainkan kenapa aku akhirnya bertahan sekian lama.

Ternyata bekerja di sana asyik juga. Orang-orangnya menyenangkan, aku melakukan sesuatu yang kusukai, dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita adalah kebahagiaan tersendiri. Belum lagi suasana keislamannya, yang memberi nilai lebih bagiku. Aku banyak belajar dan mendapat banyak hal dari sana, termasuk sahabat kental. Karena belum bertemu jodoh, aku tak punya alasan untuk berhenti.

Menggapai Cita-cita

Namun dunia senantiasa berubah, termasuk keadaan di kantor. Jenis pekerjaan juga demikian. Semula aku banyak menyunting naskah dan berinteraksi dengan para penerjemah. Tapi dengan berkembangnya penerbit dan target produksi meningkat, editor bukan lagi penyunting naskah, melainkan pengelola naskah, yang harus lebih banyak berurusan dengan orang, dan ini tidak terlalu cocok denganku yang canggung dalam hal itu. Aku beralih dari editor menjadi rights coordinator. Tak perlu lagi berurusan dengan orang, tetapi pekerjaan lebih menjenuhkan. Belum lagi kedua sahabatku menikah dan pindah ke kota lain, seorang sahabat lain kuliah di negeri jiran. Dan yang terpenting, sang dambaan hati akhirnya datang juga ke dalam hidupku.

Ketika memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ini, aku tidak ragu. Aku yakin, insya Allah akan tetap memperoleh order terjemahan secara teratur dari kedua penerbit yang merupakan mitraku. Atasanku di kantor pun meyakinkan diriku bahwa pekerjaan yang kutinggalkan akan bisa ditangani orang lain. Sudah waktunya. Aku siap.

Alhamdulillah, harapan tentang order itu terpenuhi. Beberapa bulan setelah berhenti bekerja juga, aku dilamar, lalu menikah. Karena jadwal kerjaku bebas, aku bisa menyisihkan waktu lebih banyak untuk (belajar) memasak dan menyiapkan makanan hangat sebelum suami pulang.

Kalau mau, aku bahkan bisa berjam-jam berburu resep di internet tanpa merasa korupsi waktu kantor. Saat kami pindah ke rumah sendiri kelak, insya Allah aku akan punya waktu untuk mengurus rumah. Jika kami dikaruniai anak kelak, insya Allah aku dapat berkonsentrasi membesarkan anak.

Tapi yang paling kusukai dari pekerjaan freelance ini adalah kebebasan. Terutama, kebebasan mengerjakan apa yang paling kusukai, yaitu menerjemahkan, mengutak-atik kata dan teks, tanpa perlu banyak berurusan dengan orang lain. Tak perlu melapor kepada atasan. Tak perlu punya bawahan (apalagi mengevaluasi pekerjaannya, tugas yang sulit bagiku). Aku pun bisa bebas mengerjakan hobi, seperti membaca, menulis, menonton, berkomputer, bermain musik, menyulam. Berkat adanya Internet, aku pun bisa bersosialisasi melalui email ataupun situs jejaring sosial, sehingga tak pernah merasa kesepian.

Seluk-Beluk Pekerjaan

Menerjemahkan dari rumah, itulah pekerjaan impianku, dan kini aku menjalaninya serta berusaha mensyukurinya setiap hari.

Seperti banyak hal, kebebasan adalah mata uang bersisi dua. Meskipun menyenangkan memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja,  tetapi di sisi lain kebebasan tanpa batas juga buruk. Untuk freelancer yang tak memiliki jadwal tetap, disiplin menjadi penting, terutama jika kita ingin menjadikan kegiatan kita sebagai pekerjaan freelance betulan, bukan sekadar aktivitas iseng.

Masalah disiplin ini yang kurasakan cukup berat. Pada masa awal menjadi freelancer, sepertinya aku masih terpengaruh oleh jadwal kerja kantoran sehingga bisa bekerja dari pagi sejak suami berangkat ke kantor, sampai sore sampai suami pulang ke rumah. Tetapi lama-kelamaan disiplin ini memudar, apalagi kesenangan yang dapat dinikmati kian bertambah, seperti bersosialisasi di internet atau membaca buku.
Barangkali ini berkaitan juga dengan kejenuhan. Meskipun penerjemahan adalah kegiatan yang kusukai, kadang kejenuhan itu datang juga, sehingga hobi menjadi ‘pelarian’.

Untung juga bahwa pekerjaan penerjemahan ini ada sedikit tuntutan dari luar, yaitu tenggat. Ini bisa menjadi motivasi untuk memicuku bekerja disiplin agar tenggat terpenuhi.

Aku sungguh beruntung mendapatkan suami yang juga senang membaca, mencintai buku, dan memiliki rasa bahasa yang bagus. (Femmy dan sang suami, Herman Ardiyanto, pernah berduet menerjemahkan March karya Geraldine Brooks dan diterbitkan Hikmah – kini Nourabooks).

Jadi, jika bukunya mengandung puisi atau paragraf puitis, atau tenggat sudah dekat dan aku kewalahan, aku dapat meminta bantuannya, dan ternyata dia cukup menikmati kegiatan ini. Biasanya dia membantu di tahap kedua atau ketiga, yaitu tahap penyuntingan atau tahap membaca akhir, tergantung pada tingkat kesibukannya dan juga minatnya pada buku yang sedang kuterjemahkan.

Di luar penerjemahan buku, aku juga menerima order penerjemahan dokumen, dan dalam hal ini, kami bahu-membahu mengerjakannya, kadang dia menerjemahkan dan aku mengeditnya, atau sebaliknya.

Aku menerjemahkan buku maupun dokumen, yang masing-masing ada nilai plus-minusnya. Penerjemahan dokumen bertarif lebih tinggi daripada penerjemahan buku, tetapi bahannya kurasakan kering dan membosankan.
Penerjemahan buku memang memakan waktu lebih lama untuk tarif yang lebih rendah, tetapi ganjaran batinnya jauh lebih besar. Saat menerjemahkan fiksi, aku bisa menikmati ceritanya–bahkan secara lebih mendalam daripada membaca biasa, karena waktu menerjemahkan, aku harus benar-benar memahami setiap kalimat, setiap kata, dan sering harus meriset ini-itu di Internet.

Itu dari sisi sumber terjemahan. Dari sisi sasaran terjemahan, aku pun merasa sangat menikmati. Sementara dalam penerjemahan dokumen, peristilahan sangat tergantung pada keinginan klien (yang biasanya memilih istilah asing yang populer di masyarakat dan tidak menggali kekayaan bahasa Indonesia), dalam fiksi, aku merasa lebih bebas berkreasi dan bereksperimen dengan kata.

Allah telah membimbing langkahku sehingga apa yang kucita-citakan dapat terwujud. Bahkan ini lebih dari yang kuharapkan. Alhamdulillah, aku menikmati aktivitas yang meningkatkan wawasan ini. Kesibukan yang justru makin merekatkan hubunganku dengan suami tersayang.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)