Sulit memulai menggambarkan, betapa saya “jatuh hati” pada film yang dipuji berulang kali oleh Mas Agus ini. Wajar saja suatu stasiun TV swasta menayangkannya sangat larut malam beberapa tahun lalu sehingga saya tidak tuntas menonton. Film yang diangkat dari novel Chuck Palahniuk tersebut cenderung kelam dan keras. Barangkali jika saya menontonnya 13 tahun silam, saya tidak bisa menikmati apalagi mengapresiasi. Intinya, saya suka film bertema thriller psikologis dan bukan kebetulan bila Fight Club ini mengangkat kepribadian ganda seperti The Machinist. Maaf spoiler dikit, toh filmnya juga sudah lama:p

Beberapa kutipan keren dari situ dan sana

“You have to know, not fear, that some day you are going to die. Until you know that and embrace that, you are useless.”

“It’s only after we’ve lost everything that were free to do anything”

If you wake in a different place, at a different time, could you wake up as a different person?

With insomnia, nothing’s real. Everything’s far away. Everything’s a copy of a copy of a copy.

Advertising has us chasing cars and clothes, working jobs we hate so we can buy s*** we don’t need.

Our great depression is our lives.

Without pain, without sacrifice, we would have nothing.

You’re not how much money you have in the bank. You’re not the car you drive. You’re not the contents of your wallet.

The things you own end up owning you.

Sticking feathers up your butt does not make you a chicken.

First you’ve gotta know, not fear, know, that someday you’re gonna die.

Film yang sarat kemarahan, bergelimang darah, sempat membuat saya berjengit ketika

Spoiler Inside SelectShow

Toh, karakter Tyler Durden yang getir dan sarkastik kerap membuat saya tertawa geli juga.

Satu wawasan baru lagi, skizofrenia bisa timbul karena hidup yang monoton, amarah terpendam, dan keterdesakan seseorang yang tidak punya pilihan.

Fight Club adalah satu dari sedikit film Brad Pitt yang saya favoritkan, kendati alasan menontonnya adalah Edward Norton:p

Poster dari flixster

Skor: 4,5/5

 

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)