Do not discount what you can learn from touch and careful observation. – Bones season 7

Seorang kawan penerjemah pernah bertanya, “Gimana sih caranya supaya terbiasa menerjemahkan secara luwes?” Maksudnya, proses penyuntingan terjemahan sendiri berlangsung di benak kita. Bukan sewaktu membaca ulang.

Teknik saya pribadi adalah berlatih dengan menonton film, paling sering film seri. Berdasarkan pengalaman sangat singkat saya belajar menulis skrip dan membuat transkrip rekaman, cerita film yang melulu berisi dialog sangat membantu untuk melancarkan penulisan kalimat efektif. Terasa sekali ketika berhadapan dengan buku yang didominasi dialog seperti novel bergaya memoar atau surat-menyurat (epistolary). Di luar itu pun, dialog jadi bisa dibuat lebih lancar sehingga makin tegas bedanya antara percakapan dengan narasi, kecuali konteks mengharuskan sebaliknya.

Mengapa harus film? Tanpa maksud mengecilkan manfaat baca buku berbahasa asing, saya belakangan ini merasa lebih mudah menangkap konteks dari sajian audio visual. Dosen saya dulu bilang, usahakan menikmati bacaan atau tontonan tanpa sebentar-sebentar membuka kamus supaya terlatih meraba konteks dan dengan sendirinya dapat memahami maksud kalimat/ungkapan, utamanya yang berjarak dari segi budaya. Jadilah, daripada menyiksa diri dengan menjadi polisi bahasa, saya banting setir dengan menanamkan pikiran, “Ini bahasa Indonesianya apa ya yang pas?” Konteks visual terbangun ketika saya tidak paham suatu ungkapan, yang kadang berupa ujaran/kreasi penulis skenario, saya perhatikan tindakan si tokoh, juga mimik dan intonasi suaranya. Untungnya, film seri sering mengulang ungkapan/idiom dalam beberapa episode yang berdekatan. Dengan cara itulah saya mengerti makna you don’t have the stomach dan get him out of jam setelah nonton seri Suits. Atau permainan kata di salah satu episode CSI Las Vegas Season 13, “Instead of serving aces, you’ll be serving times.” Belum terbayang bagaimana padanannya yang berbentuk permainan kata pula dalam bahasa Indonesia, tapi minimal saya tangkap artinya dulu.

Ini semua berawal dari anjuran seorang penerjemah kampiun guna mencegah keterjerumusan menerjemahkan kata per kata: Baca satu kalimat sampai selesai, tangkap artinya, baru ditulis. Lebih baik lagi jika dibaca satu alinea.

Capek dong, nonton sambil berusaha menerjemahkan? Menurut saya sih, nonton DVD ber-subtitle bahasa Inggris otomatis capek karena sembari baca teks juga. Itu masalah pembiasaan, kalau bukan hobi. Alternatifnya, nonton film di TV dan pelajari teksnya. Saya tidak percaya semua penerjemah film kita kurang bermutu. Cukup banyak yang hasilnya bagus. Pernah saya dapati “I gotta go” diterjemahkan “Sudah dulu” di adegan seorang tokoh yang bicara di telepon.

Supaya tidak terlalu penat, kita bisa pilih film yang disukai. Biasanya film yang diminati mengundang ketertarikan kita pada hal-hal detailnya, karena itulah banyak kutipan film bertebaran. Atau seperti kata kawan penerjemah di atas, “Yang sudah bosan nontonnya jadi nggak perlu fokus ke cerita.”

Peluwesan “langsung” ini memang makan waktu, alias penerjemahannya jadi lebih lama. Tapi manfaatnya, membaca ulang bisa lebih cepat.

Catatan: praktik ini hanya berlaku untuk film berbahasa Inggris Amerika, untuk bahasa Inggris murni atau dialek Australia dan teman-temannya, saya masih teler. Begitu juga untuk film Prancis, kadang begitu cepat sehingga tidak tertangkap sepatah kata pun.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)