Teks dan Gambar: Fred van Lente dan Ryan Dunlavey

Penerjemah: Rahmadianto

Penyunting: Andya Primanda

Penerbit: KPG, 2007

Tebal: 95 halaman

penerbitkpg.com

 

Saya lupa menulis di ulasan sebelumnya, profil komikus dan penulis saja sudah amat menghibur dan menciptakan senyum lebar. Fred van Lente mengaku ‘drop-out kuliah pascasarjana dengan bangga’ kemudian… ‘memutuskan bahwa mati itu lebih enak daripada menekuni dunia akademis. Tapi dia terlalu pengecut untuk bunuh diri’.

Lagi-lagi kreativitas penerjemah membuat saya sangat terkesan. Pada frame pembuka kisah Niccolo Machiavelli (yang dikomentari Mas Agus, “Jadi ingat Stravaganza ya?”), tertera kotak seperti ini:

Para sahibulhikayat:

Sri Paduka

Fred van Lente III

dan

Kanjeng Raden Mas

Ryan Dunlavey

Barangkali karena topik filsafat di buku ini relatif lebih berat lagi dari komik sebelumnya, upaya melincahkan itu (dan mengundang gelak tentu, bagi saya) ditingkatkan. Bahkan cerita akhir hidup René Descartes yang kena pneumonia setelah dua bulan mengajar ratu Swedia yang nyentrik pun menggelikan. Saya baru tahu bahwa ketika jasadnya dibawa pulang ke Prancis, bagian-bagian tubuh Descartes diambil peziarah untuk dijadikan relikui. Alamak!

Saya langsung menyerah ketika ‘bertemu’ Derrida yang sedari dulu menjadikan otak kena puting beliung. Toh, komik ini tetap layak sebagai referensi belajar filsafat yang bisa ditengok lagi kapan-kapan.

Skor: 4/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)