Sejauh peminatan saya pada karya-karya Kinsella, malah buku yang mencantumkan nama aslinyalah yang belum saya sentuh. Mendadak terbitlah novel satu ini, yang tumben-tumben menjamah dunia remaja. Genre yang tidak terlalu saya lirik sebab kerap kesulitan “nyambung” dengan karakter tokoh sentralnya. Kerap kali saya membaca sambil misuh-misuh karena terlalu sentimental, terlalu pemberontak, dan terlalu-terlalu lainnya.

Namun tak ayal saya penasaran, seperti apa sih seorang penulis chicklit menggarap buku remaja? Tentu dengan problem yang relatif tidak biasa, seperti yang dituturkan dalam sinopsis. Bisa dikatakan, ini novel sicklit pertama yang saya baca dan menyangkut masalah psikis.

Pengarang tidak kehilangan daya humornya yang natural. Walaupun mengisahkan remaja yang mengidap kecemasan akut akibat penindasan, Finding Audrey tidak terseret dalam drama berlebihan yang menyesakkan dan muram. Berkat sentuhan Kinsella yang segar, saya sering cekikikan membaca potret besar keluarga yang dihadirkan dalam buku ini. Audrey tidak melulu jadi poros perhatian. Perwatakan anggota keluarganya yang lain sama sekali tak boleh diabaikan. Felix si bungsu mengingatkan saya pada Sam, adik Anastasia Krupnik dengan berbagai polahnya.

Betapa mengharukan, keluarga Turner yang manis – termasuk Frank, abang Audrey yang kena marah melulu lantaran main LOC- tidak “terusik” oleh gangguan psikologis gadis itu. Mereka ikut dan dilibatkan dalam terapi dengan psikiater. Harus saya akui, perhatian saya lebih tercuri oleh Frank. Maaf ya, Audrey:)) Makin terpingkal-pingkal karena Anne, ibu mereka, berumur persis sama dengan saya. Rasanya seperti menertawakan diri sendiri sambil “ngaca” lewat sudut pandang remaja yang tidak suka digurui dan menganggap orangtua gaptek tapi berani-beraninya “berkuasa”.

Konflik kesalahpahaman Frank dan Anne ini cukup menonjol dan memberi saya wawasan. Contohnya, mengapa remaja tidak tertarik nonton film “jadul” (baca: tidak mengandung animasi) dan baca buku. Menurut mereka, itu dua dimensi dan membosankan. Reaksi Frank saat diamuk ibunya dan kena hukuman juga luar biasa cerdas (di sini saya berpihak pada remaja, atau tepatnya bingung harus mihak siapa:p). Salah satu pelajaran: kalau sudah mulai pikun, jangan sok-sokan ganti password yang tidak bisa dihafal sendiri.

Keluarga yang asyik dan teman yang mendukung memang penyembuh yang hebat. Saya sempat tersentuh sekali membaca dialog nostalgia Anne dan Chris (namanya juga keren, membuat saya tidak membayangkan bapak-bapak yang galak). Mereka pernah kelelahan merawat anak sakit ketika masih kecil, dan mengira setelah besar akan lebih mudah. Di situlah secara cerdik Kinsella menyisipkan pesan agar berhati-hati melontarkan keinginan.

Oh ya, sebelum membaca bab awal novel ini, saya tidak begitu ngeh kenapa Audrey berkacamata hitam di sampul. Sampul yang simpel namun membanggakan karena kabarnya, dinilai bagus oleh penerbit versi negara lain sehingga copyright-nya dibeli. Siapa bilang desain sampul Indonesia tidak keren?:D

Sebetulnya ada wawancara menarik dengan pengarang mengenai novel ini, namun tidak saya informasikan karena mengandung bocoran.

 

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2015

Tebal: 360 halaman

Alih bahasa: Angelic Zaizai

Editor: Dini Pandia

Desain sampul: Martin Dima

 

Sejauh peminatan saya pada karya-karya Kinsella, malah buku yang mencantumkan nama aslinyalah yang belum saya sentuh. Mendadak terbitlah novel satu ini, yang tumben-tumben menjamah dunia remaja. Genre yang tidak terlalu saya lirik sebab kerap kesulitan "nyambung" dengan karakter tokoh sentralnya. Kerap kali saya membaca sambil misuh-misuh karena terlalu sentimental, terlalu pemberontak, dan terlalu-terlalu lainnya. Namun tak ayal saya penasaran, seperti apa sih seorang penulis chicklit menggarap buku remaja? Tentu dengan problem yang relatif tidak biasa, seperti yang dituturkan dalam sinopsis. Bisa dikatakan, ini novel sicklit pertama yang saya baca dan menyangkut masalah psikis. Pengarang tidak kehilangan daya humornya yang natural. Walaupun mengisahkan remaja yang mengidap kecemasan akut akibat penindasan, Finding Audrey tidak terseret dalam drama berlebihan yang menyesakkan dan muram. Berkat sentuhan Kinsella yang segar, saya sering cekikikan membaca potret besar keluarga yang dihadirkan dalam buku ini. Audrey tidak melulu jadi poros perhatian. Perwatakan anggota keluarganya yang lain sama sekali tak boleh diabaikan. Felix si bungsu mengingatkan saya pada Sam, adik Anastasia Krupnik dengan berbagai polahnya. Betapa mengharukan, keluarga Turner yang manis - termasuk Frank, abang Audrey yang kena marah melulu lantaran main LOC- tidak "terusik" oleh gangguan psikologis gadis itu. Mereka ikut dan dilibatkan dalam terapi dengan psikiater. Harus saya akui, perhatian saya lebih tercuri oleh Frank. Maaf ya, Audrey:)) Makin terpingkal-pingkal karena Anne, ibu mereka, berumur persis sama dengan saya. Rasanya seperti menertawakan diri sendiri sambil "ngaca" lewat sudut pandang remaja yang tidak suka digurui dan menganggap orangtua gaptek tapi berani-beraninya "berkuasa". Konflik kesalahpahaman Frank dan Anne ini cukup menonjol dan memberi saya wawasan. Contohnya, mengapa remaja tidak tertarik nonton film "jadul" (baca: tidak mengandung animasi) dan baca buku. Menurut mereka, itu dua dimensi dan membosankan. Reaksi Frank saat diamuk ibunya dan kena hukuman juga luar biasa cerdas (di sini saya berpihak pada remaja, atau tepatnya bingung harus mihak siapa:p). Salah satu pelajaran: kalau sudah mulai pikun, jangan sok-sokan ganti password yang tidak bisa dihafal sendiri. Keluarga yang asyik dan teman yang mendukung memang penyembuh yang hebat. Saya sempat tersentuh sekali membaca dialog nostalgia Anne dan Chris (namanya juga keren, membuat saya tidak membayangkan bapak-bapak yang galak). Mereka pernah kelelahan merawat anak sakit ketika masih kecil, dan mengira setelah besar akan lebih mudah. Di situlah secara cerdik Kinsella menyisipkan pesan agar berhati-hati melontarkan keinginan. Oh ya, sebelum membaca bab awal novel ini, saya tidak begitu ngeh kenapa Audrey berkacamata hitam di sampul. Sampul yang simpel namun membanggakan karena kabarnya, dinilai bagus oleh penerbit versi negara lain sehingga copyright-nya dibeli. Siapa bilang desain sampul Indonesia tidak keren?:D Sebetulnya ada wawancara menarik dengan pengarang mengenai novel ini, namun tidak saya informasikan karena mengandung bocoran.   Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2015 Tebal: 360 halaman Alih bahasa: Angelic Zaizai Editor: Dini Pandia Desain sampul: Martin Dima  

Kesan Rinurbad

Total - 9.2

9.2

Lucu

Kinsella mengajak kita melihat sisi kocak dalam kesedihan

User Rating: Be the first one !
9

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)