Kebanyakan teman sesama freelancer sepakat bahwa sudut kerja/ruang kerja itu penting. Dalam konteks lebih luas, tempat tinggal juga amat berpengaruh dalam kinerja dan ketenteraman bekerja. Faktor ini kian “mendesak” setelah berkeluarga, demikian yang saya rasakan. Tinggal dengan orangtua atau saudara lain, tentu tidak dapat “memilih” lingkungan yang relatif cocok dan kondusif. Sewaktu kami masih seatap dengan orangtua, “wilayah” yang diperuntukkan adalah lantai atas. Karena CPU tepat berada di atas kamar ibu saya, tentu saja mengganggu jika kami kerja malam-malam. Belum lagi lampu sering menyala sampai larut dan terlihat dari luar. Tetangga sering bertanya aneka macam pada ibu saya.

Secara umum, orangtua telah diberi penjelasan tentang jam kerja dan deskripsi tugas yang biasa kami tangani. Namanya orangtua, wajar saja melihat anak mengetik siang-malam jadi khawatir. Sewaktu tinggal dengan saudara dan saya bolak-balik ke warnet lantaran sungkan menggunakan koneksi internet di rumah tersebut, saya harus mendengarkan “ceramah” setiap pagi mengenai tidak sehatnya kurang tidur ditambah, “Apa yang kalian cari kok kerja sampai banting tulang begitu?” Padahal namanya kerja, ya tidak ada yang leha-leha. Pasti capek. Apalagi kami berdua belum lama jadi freelancer, harus banting tulang dan tunggang langgang pula.

Mau tak mau memang, orangtua dan saudara yang serumah “terbawa-bawa”. Saya masih ingat suatu tahun, klien ghostwriting menelepon jam sebelas malam dan ibu saya yang mengangkat karena ada pesawat telepon dalam kamar. Waktu itu kami belum punya ponsel. Mama tidak merasa terganggu, malah iba pada klien tersebut, lalu membangunkan kami. Namun tetap saja saya tak enak hati. Kadang klien (biasanya untuk proyek dokumen) datang pagi-pagi sekali atau bahkan di atas jam sembilan malam, tak ayal diskusi panjang lebar terdengar orang rumah dan tentu memicu komentar “kok gini” atau “kok gitu”. Alhamdulillah Mas Agus tipe suami yang tabah, tapi tak urung saya menggerutu dan dialah yang harus mendengarkan. Akhirnya sewaktu menempati rumah kakak yang kosong pun, kami berusaha bertemu klien di luar saja. Andai kondisinya “darurat”, kami mohon pengertian klien tersebut agar tidak sampai terlalu malam.

Bukan kami tidak mencari tempat kos, yang dianggap lebih cocok dengan kondisi keuangan saat itu. Rata-rata induk semang tak menghendaki penyewa yang mendekam di kamar saja, entah apa alasannya. Mungkin ada kesan misterius yang tidak menyamankan. Cukup menggelikan sih, mengingat semasa saya mahasiswa dan jarang di kamar kos, malah bapak kos berkata, “Neng Rini ini angkatan 66 ya.” Maksudnya pergi jam 6 pagi, pulang jam 6 sore. Faktanya sih, sering lebih dari itu:p. Memusingkan membolak-balik pengiraan alasan para induk semang tersebut, lha wong ketika ngantor saja saya sering sampai rumah jam 10 malam. Ada lagi kosan suami-istri yang mensyaratkan tidak membawa anak. Toh akhirnya kami dapat tempat juga, meski hanya setahun kemudian hengkang. Cukuplah sebagai bekal mencicipi tinggal terpisah dari orangtua.

Tempat tinggal sendiri yang saya maksud tidak mesti “simsalabim” beli rumah, urusan yang tak kalah rumit dengan aneka perniknya. Bisa kos atau mengontrak, disesuaikan dengan kemampuan. Komentar orang lain memang tidak bisa dikontrol, akan selalu ada pertanyaan dan keheranan atas profesi freelancer yang dijalani. Tapi kebebasan yang lebih besar itu menyamankan dan berdampak positif pada produktivitas. Alhamdulillah, sewaktu kos, induk semang dan suaminya sama-sama freelancer. Cukup diceritai garis besarnya, kami tidak diusik-usik.

Ketika kami pindah ke rumah sendiri lima tahun silam, paling nyengir-nyengir karena repot urusan administrasi untuk mengisi data “pekerjaan”. Tetangga sebagian besar bukan orang kantoran, kadang keluar rumah siang-siang sambil mengantar anak atau malah seharian tidak ke mana-mana. Kalaupun ada satu-dua komentar kurang enak, saya sudah lebih sanggup menebalkan telinga. Menyenangkan kok, tersenyum diam-diam sewaktu honor menerjemahkan dapat membantu biaya perbaikan rumah. Juga kala pendapatan, yang kata sebagian orang “kecil” itu, bisa digunakan untuk membeli beras. Tak jadi soal mereka tak paham bidang kerja kami. Kalau semata menginginkan profesi yang “lazim”, kami tidak akan jadi ghostwriter atau editor/penerjemah buku.

Kadang jika tetangga bertamu dan melihat kami menyalakan komputer, dia bilang, “Oh, kantor sudah mau buka ya.” Belakangan ketika Mas Agus ronda pengelolaan air dan jam menunjukkan pukul sembilan, seorang tetangga menyuruhnya pulang. “Ayo, sana kerja.” Di sini kami memetik pelajaran sangat penting: Mereka yang bidangnya sama belum tentu mau mengerti. Justru tetangga yang rata-rata pekerja bangunan, berdagang di pasar, dan sopir ojek inilah yang lebih mudah memahami.

Tulisan ini dalam rangka peringatan lima tahun kami bermukim di lereng gunung. Lagi-lagi, alhamdulillah ^_^


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)