Penulis: Jeon Jae-Un

Ilustrator: Choi Myeonggu

Editor: Hyeon Jong-Woo

Penerjemah: Patricia Irinna Gunawan

Penerbit: Elex Media Komputindo, 2011

Tebal: 188 halaman full color

Harga: Rp 55.000,00

 

Membaca subjudulnya saja saya sudah cekikikan: 35 pengetahuan tentang warna yang bikin mata kamu belo’ dan clangap. Sebagai orang yang terdeteksi buta warna parsial ringan (ini istilah saya sendiri) terkhusus spektrum gradasi merah dan kuning, saya merasa perlu membaca buku ini. Pasalnya, saya paling sering ribut masalah warna ketika berjalan-jalan sekalipun. Misalnya, mengapa dokter harus selalu berpakaian putih? Justru kostum putih itulah yang membuatnya seram, demikian pula rumah sakit. Mengapa gedung kantor asuransi bercat biru? Dan sebagainya, dan sebagainya.

Memang tidak semua terjawab dengan komik sains Korea ini. Akan tetapi tidak sedikit pengetahuan perihal warna yang saya peroleh. Sebut saja kertas lakmus, yang samar-samar mengingatkan pada pelajaran Kimia, mengapa dokter mengenakan baju operasi warna hijau, mengapa ban berwarna hitam, dan apa yang terjadi ketika rambut dicat/diubah warna. Kemudian psikologi warna dan pengaruhnya terhadap mood, yang memang sudah lama saya cari. Berikut beberapa di antaranya:

Warna kuning dianggap warna yang bisa mengeluarkan sifat positif seseorang. Jadi, kamar anak yang negatif dan kurang sabar ada baiknya dicat warna kuning.

– Saya kurang sabar, tapi bukan anak-anak, dan keberatan berkuning-kuning:))

Kuning pada makanan meningkatkan nafsu makan, seperti kentang yang bukan hanya aman untuk lambung tapi juga baik untuk stres.

– Saya jadi ingin coba makan salad kentang waktu sedang marah, seperti disarankan buku ini.

Biru dapat menurunkan nafsu makan, jadi baik untuk yang menderita obesitas.

Semua itu di halaman 184-185

Di Amerika pernah ada penjara yang temboknya dicat pink. Hasilnya, perkelahian antar sesama tahanan pun berkurang, dan mereka mendengarkan kata-kata penjaga. (hal. 181)

Tentu saja ada penjelasan buta warna pula, dan banyak bahasan lain yang sebenarnya sederhana namun saya harus berpikir ekstra ketika berhadapan dengan istilah sains rumit. Contohnya menghafal warna primer dan warna gabungan, proyeksi pelangi dari gelembung sabun, blue screen sebagai strategi tayangan perkiraan cuaca (bukan layar biru tanda komputer rusak), dan yang paling menarik sekaligus mengusik:

Suatu hari nanti pasti tiba saatnya bagi kita untuk membuat pembangkit tenaga listrik tenaga mawar merah. (hal. 160)

Mungkin agar anak-anak tidak jemu, penjelasan ilmiah diselingi komik berbau fantasi yang menyebabkan seorang anak tidak lagi membenci sains hanya karena ayahnya yang ilmuwan teramat sibuk dan tak punya waktu bermain dengan dia. Ilmu ihwal warna diuraikan sedikit demi sedikit dari yang paling ringan dan umum. Warna sebagai salah satu elemen kehidupan yang menyangkut banyak hal/aktivitas penting menjadi bahan dasar agar anak tertarik pada sains, sebab pada umumnya anak menyukai warna-warni.

Oh ya, tidak ada tuh bahasan mengenai warna labil dan kurang jelas seperti hijau toska, khaki, dan salem:p *nyengir sambil bertanduk*

Saya menyesal, tempo hari tidak sekaligus membeli Science Love dan Science Horror. Sinopsisnya sangat mengundang. Lain kali saya harus memilikinya.

Sumber cover: elexmedia

Skor: 4/5

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)