Penulis: Osamu Tezuka

Penerjemah: Asha Fortuna

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2007

Tebal: 416 halaman

ISBN: 9789799100658

Terima kasih kepada Penerbit KPG, yang dengan pengertian besar kepada pembaca jadul yang tidak fasih manga seperti saya, menerjemahkan buku ini dari versi Inggris sehingga urutan halamannya tidak ‘mundur’.

Terima kasih kepada Asha Fortuna, untuk terjemahan lentur dan apik yang menjadikan suasana baca tetap santai namun bernas, sehingga mata enggan beralih dari halaman demi halaman pemaparan kisah masa kanak-kanak Siddharta Gautama ini.

Terima kasih, tentu saja kepada Osamu Tezuka, sang Manga-no-kami sama dan penggagas mata besar bundar dalam karakter yang digambarnya. Pula atas kontribusi dorongan moril sang ibu, yang kala dimintai pendapat akan profesi di masa depan putranya, menjawab, “You should work doing the thing you like most of all.” Dedikasi itu tertumpah ruah dalam novel grafis yang menyabet Eisner Award tahun 2004 ini, tebaran wawasan dalam cerita biografis yang dibentangkan dengan elok serta, mungkin, belum banyak diketahui orang.

Sedari kecil, Siddharta yang ringkih tak meminati hal-hal berbau duniawi. Ia tertidur dalam pesta penuh tarian, meski diam-diam menguping pembicaraan pembesar yang mencoba korup. Jiwanya gelisah, dan ia sempat mengalami mimpi menggetarkan: menjadi seekor anak burung yang kemudian tumbuh sampai ajalnya. Sebuah kisah sederhana yang kerap luput dari perhatian kita, manusia, bahwa makhluk kecil yang tampak memikat itu bukan sekadar beterbangan untuk bersukaria, tetapi senantiasa terancam bahaya.

Siddharta diramalkan menjadi raja diraja, sehingga ayahnya bersikukuh menunjuk selaku penerus. Ia berharap perangai aneh putra tunggalnya berubah dengan menikahkan di usia sangat belia, dengan Putri Yashodara. Siddharta harus melupakan kisah romansanya dengan begal perempuan Maigala, serta kekaribannya dengan Tatta si paria yang bahkan mampu mengenali talenta spesial pemuda ini. Ketika diajari memanah oleh Bandhaka pun, Siddharta mencoba menempatkan lelaki pongah itu di posisi sasaran buruan.

Sang pangeran kerap bertanya mengenai apa yang terjadi usai kematian. Getaran demi getaran menghebat saat dengan cantiknya, Tezuka menguak pemikiran cendekia Siddharta akan ketidakadilan kasta. Ia menentang pendapat bahwa kaum Brahmana pasti masuk surga, sedangkan kasta terendah dicabik-cabik di tempat paling hina. Menurutnya, itu bertentangan dengan bencana alam, wabah, penyakit, dan kematian sendiri yang tidak mengenal kedudukan, usia, warna kulit, dan asal seseorang.

Profil spesial akan figur yang ingin mengakrabi getirnya hidup, dan berani meneguhkan pendirian serta tidak tergiur tahta, dengan menantang sang ayah untuk memberikan kehidupan abadi sekiranya ingin menahannya di istana.

Walaupun baru membaca novel grafis bermutu ini sekarang, saya tidak menyesal sedikit pun.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)