asylum

Kata orang, gambar dan foto mampu berbicara seribu kata. Di era serbaterdistraksi ini, foto juga rentan meleset. Mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan komentar, “Eh, yang di belakang itu apa? *salah fokus*” atau “Bajunya cakep “salah fokus*.” Kentara benar di media sosial, banjir informasi membuat orang sulit berkonsentrasi lama-lama pada satu hal.

Saya masih ingat ucapan seorang rekan sesama pekerja lepas yang sempat mencicipi beberapa tahun di penerbitan. Sejak itu, sampul buku yang bagus menurutnya adalah yang “menjual” dan dapat bersaing ketika dipajang di toko. Saya jadi terkenang kata-kata seorang editor lain yang pernah menjadi juri kontes desain sampul buku. Salah satu yang menurut saya menarik dikomentarinya, “Terlalu ramai, kebanyakan elemen.” Belakangan baru saya sadari, itulah gambar yang tidak tepat di era salah fokus ini. Lebih simpel lebih baik, kemudian disiasati agar bisa mencorong dan merebut perhatian calon konsumen.

Alangkah inginnya saya mempunyai mata sejeli mereka:)

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)