Sudah dua kali saya tersodok karena semakin jarang memperbarui blog ini. Pertama, pada Hari Blogger beberapa bulan lalu. Kemudian sewaktu memperpanjang domain dan hosting, namun saya tetap bengong dan “tak sempat” mengisi dengan postingan baru.

Ada apa dengan saya? Bukankah waktu tetap 24 jam untuk semua orang?

Renung punya renung, rupanya bukan salah smartphone seperti tudingan saya semula. Saya masih sempat tidur, menonton acara tertentu di televisi, kadang film, dan (yang semakin jarang) membaca buku kendati tipis-tipis saja tanpa mengulasnya seperti biasa di sini. Namun banyak hal terjadi, banyak peristiwa serentak yang mengubah kehidupan dan keseharian kami. Misalnya, muncul “gejala” baru yang ternyata bernama leisure sickness. Pekerjaan saya memang tidak mudah, namun bukan berarti paling bikin stres sedunia. “Berdiam diri” membuat saya gelisah dan khawatir terpikir macam-macam, sehingga pekerjaan dan kesibukan menjadi penyaluran penting. Atau pelarian.

Selain itu, rupanya apa yang saya alami lazim melanda sandwich generation. Roti lapis memang mulai biasa di sini, tapi saya pilih es campur saja sebagai padanan karena lebih familier. Setidaknya bagi saya pribadi. Tidak ada jalan keluar “permanen” untuk berbagai situasi kasuistis. Tak ayal berjam-jam saya bisa mengais bacaan dan referensi yang relevan, seperti artikel bagus ini.

8. Avoid hard and fast plans
Purchasing tickets for concerts or signing up to take a class and then being unable to attend can add to your frustration. You are often better off using any free time to take a walk, shop, or even nap. Time becomes ever so precious. Learn to use it wisely.

Eh, benar juga.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)