… bukan hanya kejemuan. Jenuh bisa melanda pelaku profesi apa pun dan resepnya serupa tapi tak sama. Ada godaan lain yang tak kalah sulit ditampik, yakni:

1. Informasi lowongan/tes

Banyak alasannya. Yang membuka lowongan adalah penerbit yang diidam-idamkan. Pernah melamar ke sana namun belum juga ada jawaban. Menempuh seleksi tetapi masih gugur juga. Atau ingin menambah pengalaman dengan menjajaki penerbit berbeda/baru. Wajar saja bila timbul harapan, barangkali penerbit baru mempunyai standar prosedur/penilaian yang lain. Bisa juga karena berekspektasi menggarap genre yang di luar kebiasaan.

Tanpa bermaksud menggurui, mengikuti seleksi membutuhkan pertimbangan cermat. Ada kalanya penerbit menyelenggarakan tes karena memang perlu penerjemah/editor lepas dalam waktu dekat. Bayangkan situasi ini:

Deadline kita masih satu bulan lagi. Tes diberi tenggat seminggu, dan langsung diumumkan. Kita lulus, langsung ditawari pekerjaan (ini bukan mengajak GR, ya:)). Ternyata tenggatnya rapat. Harus diakui, seni dan keahlian merangkap itu tidak mudah. Salah kelola, bisa-bisa keteteran. Di lain pihak, karena sudah melamar, sayang juga kesempatan membangun relasi baru ini bila sampai hilang.

Bagaimana, dong? Kalau enggan melewatkan ini, boleh saja melayangkan CV sesuai prosedur dan mengikuti tes. Pada tahap tes, sampaikan bahwa sekarang ini tengah mengerjakan proyek lain sampai kira-kira tanggal sekian. Pertimbangan selanjutnya, terserah penerbit tentu.

2. Tawaran

Bunyinya saja sudah tawaran. Bukan main memikatnya, tidak perlu tes segala. Tapi pekerjaan di tangan masih banyak dan sama sekali tidak bisa dikatakan mudah. Mungkin hati jadi berat, namun seperti saran para senior, lebih baik berterus terang dan menolak baik-baik. Penerbit tidak akan sakit hati atau berpraduga aneh-aneh, bahkan sangat menghargai kejujuran tersebut. Jangan sampai terjadi badai deadline yang membahayakan profesionalisme sekaligus stamina, apalagi bila setelah pekerjaan di depan mata ini, sudah ada antrean lain.

Sesuai kata orang bijak, “Kalau rezeki tak akan ke mana.”

Tulisan ini sekadar berbagi dan pendapat saya pribadi, pilihan kembali ke tangan Anda masing-masing:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

12 Responses to “ Godaan di Tengah Deadline ”

  1. gravatar helvry Reply
    January 25th, 2012

    Boleh modif kata orang bijak di atas teh? menjadi:
    Rezeki pun harus diperjuangkan 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Boleh saja, Helvry. Hanya dalam konteks ini, menurutku kata bijak itulah yang cocok:)

  2. gravatar Linda Reply
    January 25th, 2012

    Pernah kejeblos no. 1. Satu kata: kapok, hihi…

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Hehehe…

  3. gravatar Femmy Reply
    January 25th, 2012

    Pernah beberapa kali digoda oleh no. 2. Yang menggoda bukan “tanpa tes”-nya, tetapi bukunya yang sangat menarik. Tapi apa daya, kalau buku di tangan sudah mengantre, ya tawaran buku semenarik apa pun tidak bisa diterima.

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Nah, itu juga, Fem. Aku belajar dari Femmy untuk menabahkan diri soal ini. Alhamdulillah bisa juga, meski susah payah:)

  4. gravatar lulu Reply
    January 25th, 2012

    ah, aku kira yang dimaksud godaan itu browsing, medsos, dkk… hehe.
    iya, kalau untuk nomor 1, terkadang jadinya aku baru berani melamar kalau udah agak lowong waktu, takut ga bisa menepati janji.

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Hehehe, kalau browsing dll itu pisau bermata dua ya, Lul:)

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Insya Allah:)

  5. gravatar Meggy Reply
    January 25th, 2012

    Wah, bener banget nih, mbak. DUA-DUAnya memang menggoda. Kalau aku kadang kejadiannya yang nomor dua (tapi bukan buku), jadi biasanya tanya dulu jumlah materi berapa banyak dan butuh seberapa cepat. Kalau ternyata banyak dan butuh cepat, yah terpaksa menabahkan hati menolak 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Toosss, Mbak Meggy. BTW kapan dong Mbak Meggy sharing pengalaman juga? Aku sangat berminat membacanya, lho:)

Leave a Reply

  • (not be published)