Foto: Meilia

Mengapa 33 tahun? Karena saya baru lancar membaca usia 4 tahun. Mungkin saja sebelum itu almarhum Bapak sudah membelikan buku-buku terbitan GPU, yang dulu bernama PT Gramedia, untuk kami bertiga. Misalnya Robi dan Susi, yang saya ingat samar-samar. Juga seri Pustaka Dasar.

 

Seperti Lulu, tentu saja buku-buku GPU pertama saya adalah bacaan anak. Sudah umur segini pun, masih saya baca dan kalau ada yang mau meminjamnya (di rumah), saya tunggui sambil melotot kalau perlu. Ketika masih kecil, Bapak menugaskan saya menceritakan kembali apa yang saya baca di depan beliau. Mungkin Bapak punya firasat anak tengahnya akan menaruh minat pada dunia buku kelak, kendati menurut beliau itu wajar karena darah kepengarangan mengalir dari pihak keluarga Bapak.

Sebagian novel Sidney Sheldon koleksi saya.

Namun tak ayal, yang sangat “berpengaruh” adalah novel-novel Sidney Sheldon. Bapak membelikannya ketika saya masih SMA, di masa remaja yang luar biasa bergejolak. Waktu itu saya belum terlalu memperhatikan halaman hak cipta, bahkan belum berkeinginan menjadi penerjemah sama sekali. Maka belakangan saya baru tahu, salah satu judul novel Sheldon diterjemahkan oleh mendiang Ibu Listiana Srisanti. Setelah saya berumah tangga, tradisi menghadiahkan karya terbaru Sheldon dilanjutkan oleh Mas Agus. Ini jadi keuntungan tersendiri sebab di kemudian hari, Mas Agus menyunting novel dan penulisnya berkeinginan kuat agar plot seperti gaya Sheldon pula.

Dalam proses belajar menulis, GPU menjadi bagian perjalanan saya. Ikut berkontribusi di kumpulan cerita nonfiksi itu sudah membanggakan. Mengenai jadi penyunting, apalagi penerjemahnya, seperti mimpi belaka. Mengharapkannya pun tidak berani. Sebut saya pengecut, gemar di zona nyaman, tidak punya mimpi besar, atau apa saja:))

Foto: Meilia

Baru empat tahun saya menjadi satu dari sekian banyak relasi GPU. Novel pertama yang saya sunting adalah Veil of Roses. Tak pernah terpikir kemudian saya “bertemu” karya Michael Crichton, Isabel Allende, John Grisham, James Patterson, Conn Iggulden, John Connolly, dan banyak lagi. Tak kalah menakjubkan belajar dari para penerjemah hebat seperti Ibu Rahmani Astuti, Fahmy Yamani, Ibu Gita Yuliani, Lulu Wijaya, Fanny Yuanita, Ibu Lanny S. Murtihardjana, Uci, Nur Aini, Mbak Utti Setiawati, Mbak Esti Ayu Budihabsari, juga beberapa penerjemah romance yang kampiun di bidangnya. Mas Agus yang baru bekerja sama dua tahun pun menikmati pengalaman itu, sedari suntingan perdananya yaitu Secret Fantasy. Salut luar biasa pada para editor penanggung jawab yang sabar dan telaten membimbing kami.

Kami tidak menampik bahwa pengalaman bekerja sama dengan GPU menjadi nilai tambah tersendiri di CV. Mas Agus misalnya, pernah direkomendasikan pada seorang penulis terkemuka dengan ucapan, “Dia ini editor Gramedia.” Kendati pengalamannya didominasi menyunting buku romance, tidak membuat seorang editor penerbitan besar mengernyit dan tetap menawari dia pekerjaan menangani genre lain dengan perkataan, “Udah banyak juga ya editannya.” Benar kata seorang teman yang pernah kerja di penerbitan beberapa tahun, “Nggak usah malu mencantumkan buku apa pun yang dikerjakan, itu malah mencerminkan lingkup kerja kita luas.”

Selamat harlah ke-40, GPU. Teruslah menginspirasi:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)