hsi

Judul buku: Harga Sebuah Impian, Chicken Soup for the Writer’s Soul

Penulis: Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Bud Gardner

Penerjemah: Rina Buntaran

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2007

Jumlah halaman: xix + 201 halaman

Karcis masuk ke dunia khayal tak pernah gratis,

demikian ungkap Gene Perret dalam esai Impian Mempunyai Harga (hal. 26). Awalnya, penulis naskah komedi ini menjadikan Bob Hope sebagai model semata untuk mengembangkan kualitas karyanya. Tak dinyana, bertahun-tahun kemudian ia mendapat pesanan langsung dari sang komedian sendiri ketika tampil sebagai pembawa acara. Bob Hope yang terkesan berkomentar,

“Sepertinya Anda telah menulis untuk saya seumur hidup Anda.” ( hal. 27).

Kemungkinan besar bertolak dari kisah nyata Perret inilah, tim penggarap Chicken Soup for the Writer’s Soul edisi Indonesia merumuskan judul Harga Sebuah Impian. Cita-cita adalah benang merah yang menciptakan gairah kerja dan semangat para penulis dalam buku ini untuk terus berkarya meski dihadang berbagai rintangan. Ada yang dihantam kesedihan karena kehilangan anggota keluarga secara berturut-turut, ada yang diserang penyakit berat, dan ada juga yang menghadapi permasalahan klasik dalam setiap unsur kehidupan: uang. Toh, mereka menolak untuk menyerah dan bangkit setiap kali jatuh, bagaimanapun sakitnya.

Chicken Soup for the Writer’s Soul tidak menyajikan semata gemerlapnya keberhasilan yang berbentuk popularitas atau larisnya tulisan yang berdampak pada peningkatan ekonomi. Beberapa cerita memaparkan rasa salut anak-anak penulis terhadap dedikasi orangtua mereka terhadap profesi. Sebut saja kolomnis Helen Bottel yang bahkan membalas sendiri surat-surat peminat tulisannya serta mencapai keemasan karier kepenulisan di usia senja, seperti dipaparkan oleh sang putri, Suzanne Peppers dalam Helen Bantu Kami! (hal. 147-151).

Dua cerita berkaitan dengan Bud Gardner, salah satu penulis buku ini, antara lain ketika mengundang Alex Haley sebagai pembicara sebuah workshop yang diminati banyak orang. Jelaslah bahwa perjuangan tak pernah usai, kita tak boleh mudah puas, dan harus senantiasa mengembangkan diri. Jika ingin berbagi cerita, tercantum informasi singkat berikut alamat email grup John Canfield yang menyatakan masih akan menulis buku-buku Chicken Soup for the Soul untuk seterusnya.

Saya merasa tidak sendiri kala menemukan curahan hati para penulis yang diterjang penyakit, bahkan yang lumayan kronis. Lalu apakah semua isi buku ini mengharu-biru selalu? Tidak. Saya tersenyum-senyum membaca Anugerah Mendua (hal. 140-142). Marcia Preston menyampaikan pergulatan memperhatikan cucunya yang menggemaskan dan komputer yang menuntut perhatian. Ilustrasi kartun yang ditambahkan pun cukup mendukung, di samping kutipan-kutipan mutiara di beberapa halaman. Salah satu yang teramat berkesan ialah

Lebih banyak orang mempunyai bakat daripada disiplin. Itulah sebabnya disiplin dibayar lebih tinggi – Mike Price (hal. 26).

Walau di awal pembacaan terhambat banyak anak kalimat, namun kemudian kreativitas pemilihan diksi oleh penerjemah terasa sampai halaman terakhir.

[rating=4]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)